Ghost in the Cell: Film Horor Komedi Joko Anwar

Ghost in the Cell: Film Horor Komedi Joko Anwar

Joko Anwar Sindir Sistem Lapas Lewat Horor

HARIAN.NEWS,JAKARTA – Penggemar film horor Tanah Air kembali dimanjakan. Setelah sukses dengan berbagai karya sebelumnya, sutradara Joko Anwar merilis film terbaru berjudul Ghost in the Cell. Film ini resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia pada Kamis, 16 April 2026.

Yang membuat berbeda, Ghost in the Cell bukan sekadar horor biasa. Joko Anwar menyelipkan komedi sekaligus kritik sosial yang tajam. Berlatar di lembaga pemasyarakatan fiktif bernama Labuhan Angsana, film ini mengisahkan kehidupan keras narapidana yang hidup dalam tekanan, baik dari aparat maupun sesama tahanan.

“Film ini lahir dari kegelisahan melihat sistem yang timpang. Saya ingin menghibur, tapi juga mengajak berpikir,” ujar Joko Anwar dalam jumpa pers di Jakarta, pada Senin (20/4/2026).

Teror Berawal dari Napi Baru

Konflik mulai memuncak saat seorang narapidana baru masuk ke Lapas Labuhan Angsana. Sejak kehadirannya, kematian misterius terjadi satu per satu. Para tahanan ditemukan tewas dengan cara mengerikan.

Perlahan, keyakinan aneh menyebar: hantu itu hanya membunuh orang dengan aura paling negatif.

Konsekuensinya unik. Para napi yang sebelumnya hidup dalam kekerasan justru berlomba-lomba berbuat baik. Mereka berusaha menjaga aura tetap positif agar selamat dari teror.

Kritik Sistem di Balik Humor

Namun, Joko Anwar tak berhenti di situ. Lewat konflik batin para karakter, ia menunjukkan bahwa berubah di lingkungan yang tidak adil itu sulit. Ketidakadilan sistemik dan kekerasan yang terus terjadi membuat para napi kesulitan mempertahankan niat baik mereka.

Akhirnya, kesadaran kolektif muncul. Satu-satunya cara melawan teror—baik dari manusia maupun makhluk gaib—adalah bersatu.

“Premis aura negatif itu metafora. Kejahatan tak selalu datang dari luar, tapi juga tumbuh dari lingkungan yang menekan,” kata produser Tia Hasibuan dari Come and See Pictures.

Ghost in the Cell didukung ansambel pemain mentereng: Abimana Aryasatya, Aming, Arswendy Bening Swara, Bront Palarae, Lukman Sardi, Rio Dewanto, dan Tora Sudiro. Kehadiran mereka membawa dinamika cerita yang intens sekaligus lucu pada momen-momen tertentu.

Dengan balutan humor khas dan nuansa mencekam, film ini menawarkan pengalaman berbeda dari horor kebanyakan. Bukan hanya ketakutan, tetapi juga refleksi tentang moralitas, solidaritas, dan kemanusiaan dalam kondisi ekstrem.

Ghost in the Cell masih bisa disaksikan di bioskop-bioskop terdekat. Jangan lewatkan. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG