Logo Harian.news

HARIAN ENTERTAINMENT

Ghost in the Cell: Film Horor Komedi Joko Anwar

Editor : Andi Awal Tjoheng Selasa, 21 April 2026 20:35
Poster film Ghost in the Cell, saat teror misterius mulai memakan korban (IG@jokoanwar)
Poster film Ghost in the Cell, saat teror misterius mulai memakan korban (IG@jokoanwar)
APERSI

Joko Anwar Sindir Sistem Lapas Lewat Horor

HARIAN.NEWS,JAKARTA – Penggemar film horor Tanah Air kembali dimanjakan. Setelah sukses dengan berbagai karya sebelumnya, sutradara Joko Anwar merilis film terbaru berjudul Ghost in the Cell. Film ini resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia pada Kamis, 16 April 2026.

Baca Juga : Bikin Heboh Itu Mudah, Jujur Itu yang Susah

Yang membuat berbeda, Ghost in the Cell bukan sekadar horor biasa. Joko Anwar menyelipkan komedi sekaligus kritik sosial yang tajam. Berlatar di lembaga pemasyarakatan fiktif bernama Labuhan Angsana, film ini mengisahkan kehidupan keras narapidana yang hidup dalam tekanan, baik dari aparat maupun sesama tahanan.

“Film ini lahir dari kegelisahan melihat sistem yang timpang. Saya ingin menghibur, tapi juga mengajak berpikir,” ujar Joko Anwar dalam jumpa pers di Jakarta, pada Senin (20/4/2026).

Teror Berawal dari Napi Baru

Baca Juga : Kritik Sosial Bukanlah Pencemaran Nama Baik dalam UU ITE

Konflik mulai memuncak saat seorang narapidana baru masuk ke Lapas Labuhan Angsana. Sejak kehadirannya, kematian misterius terjadi satu per satu. Para tahanan ditemukan tewas dengan cara mengerikan.

Perlahan, keyakinan aneh menyebar: hantu itu hanya membunuh orang dengan aura paling negatif.

Konsekuensinya unik. Para napi yang sebelumnya hidup dalam kekerasan justru berlomba-lomba berbuat baik. Mereka berusaha menjaga aura tetap positif agar selamat dari teror.

Baca Juga : Geger Perempuan Tak Bergerak saat Nonton Film Pengabdi Setan

Kritik Sistem di Balik Humor

Namun, Joko Anwar tak berhenti di situ. Lewat konflik batin para karakter, ia menunjukkan bahwa berubah di lingkungan yang tidak adil itu sulit. Ketidakadilan sistemik dan kekerasan yang terus terjadi membuat para napi kesulitan mempertahankan niat baik mereka.

Akhirnya, kesadaran kolektif muncul. Satu-satunya cara melawan teror—baik dari manusia maupun makhluk gaib—adalah bersatu.

“Premis aura negatif itu metafora. Kejahatan tak selalu datang dari luar, tapi juga tumbuh dari lingkungan yang menekan,” kata produser Tia Hasibuan dari Come and See Pictures.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG

Follow Social Media Kami

KomentarAnda