Harmoni Cahaya dan Sunyi di Bali

HARIAN.NEWS,MAKASSAR – Pada Maret 2026, dua tradisi keagamaan hadir dalam waktu yang berdekatan, kesunyian Hari Raya Nyepi di Bali dan gema malam takbiran menjelang Idulfitri. Meski tidak berlangsung pada hari yang sama, dimana sebelum itu diprediksi waktunya bersamaan.
Namun faktanya hanya berbeda 1-2 hari, tetap memantik perbincangan di ruang publik.
Di ruang digital, kedekatan ini segera memunculkan beragam opini. Sebagian melihatnya sebagai potensi benturan dua ekspresi religius. bagaimana mungkin suasana hening total bertemu dengan tradisi takbiran yang penuh gema? Media sosial pun menjadi arena diskusi yang riuh, cepat, dan tak jarang lebih emosional daripada reflektif.
Namun kehidupan nyata sering kali jauh lebih tenang daripada perdebatan di dunia maya. Bali telah lama membuktikan bahwa keberagaman tidak selalu harus dipahami sebagai pertentangan.
Nyepi bukan sekadar ritual tahunan, melainkan filosofi hidup yang telah dijaga selama berabad-abad. Dalam satu hari itu, sebuah pulau memilih berhenti beraktivitas, lampu dipadamkan, jalanan kosong, bandara ditutup, dan aktivitas manusia seakan ditarik kembali ke titik paling dasar dan dalam, kesadaran diri.
Empat pantangan utama Nyepi mengajarkan pengendalian, tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan. Di tengah dunia yang semakin bising, Nyepi menjadi pengingat bahwa manusia kadang perlu diam agar mampu kembali mendengar makna hidupnya sendiri.
Sementara itu, malam takbiran adalah momen spiritual yang penuh kegembiraan. Lantunan takbir bukan sekadar tradisi, melainkan ungkapan syukur setelah perjalanan panjang Ramadan. Ia adalah perayaan kemenangan batin, bahwa manusia mampu menahan diri sebulan lamanyal dan kembali pada kesadaran akan Yang Maha Kuasa.
Jika Nyepi adalah perjalanan ke dalam, maka takbiran adalah luapan ke luar. Yang satu mengajak meredam suara, yang lain mengajak mengumandangkan syukur. Namun keduanya lahir dari sumber yang sama ” kesadaran spiritual”.
Dalam praktiknya, masyarakat Bali telah lama hidup dalam keberagaman yang membumi. Ketika Nyepi berlangsung, berbagai komunitas, termasuk umat dari agama lain, ikut menjaga kesunyian sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah menjadi identitas bersama.
Bukan karena kehilangan hak untuk merayakan keyakinan, tetapi karena memahami satu hal sederhana, hidup berdampingan membutuhkan kepekaan.
Karena itu, kedekatan waktu antara Nyepi dan Idulfitri bukanlah persoalan yang harus dipertentangkan. Ia justru menjadi pengingat bahwa masyarakat sering kali memiliki kearifan yang lebih matang dibandingkan riuhnya opini di media sosial.
Kita hidup di zaman ketika suara mudah diperbesar, tetapi kebijaksanaan sering kali tenggelam di tengah kebisingan. Padahal jika dilihat lebih dalam, sunyi dan takbir tidak benar-benar bertentangan.
Takbir adalah cahaya suara yang memuliakan Tuhan, sementara Nyepi adalah cahaya batin yang lahir dari keheningan. Keduanya adalah jalan manusia untuk mendekat kepada Yang Maha Tinggi, dengan cara yang berbeda.
Bali telah lama membuktikan bahwa kehidupan tidak selalu harus dipahami sebagai pertarungan antara dua pilihan. Maka yang perlu dijaga bukan hanya tradisinya, tetapi juga cara kita memandang perbedaan itu sendiri.
Sebab harmoni tidak selalu lahir dari kesamaan, melainkan dari kesediaan untuk saling memberi ruang.
Dalam kesunyiannya, telah lama mengajarkan hal itu “ bahwa kedamaian tidak tercipta karena semua orang bersuara sama, melainkan karena mereka tahu kapan harus berbicara, dan kapan dengan bijak memilih untuk diam”. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)