Karena itu, kedekatan waktu antara Nyepi dan Idulfitri bukanlah persoalan yang harus dipertentangkan. Ia justru menjadi pengingat bahwa masyarakat sering kali memiliki kearifan yang lebih matang dibandingkan riuhnya opini di media sosial.
Kita hidup di zaman ketika suara mudah diperbesar, tetapi kebijaksanaan sering kali tenggelam di tengah kebisingan. Padahal jika dilihat lebih dalam, sunyi dan takbir tidak benar-benar bertentangan.
Takbir adalah cahaya suara yang memuliakan Tuhan, sementara Nyepi adalah cahaya batin yang lahir dari keheningan. Keduanya adalah jalan manusia untuk mendekat kepada Yang Maha Tinggi, dengan cara yang berbeda.
Bali telah lama membuktikan bahwa kehidupan tidak selalu harus dipahami sebagai pertarungan antara dua pilihan. Maka yang perlu dijaga bukan hanya tradisinya, tetapi juga cara kita memandang perbedaan itu sendiri.
Sebab harmoni tidak selalu lahir dari kesamaan, melainkan dari kesediaan untuk saling memberi ruang.
Dalam kesunyiannya, telah lama mengajarkan hal itu “ bahwa kedamaian tidak tercipta karena semua orang bersuara sama, melainkan karena mereka tahu kapan harus berbicara, dan kapan dengan bijak memilih untuk diam”. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
