Indonesia Menuju Kesejahteraan Psikologis Terbaik di Dunia

Indonesia Menuju Kesejahteraan Psikologis Terbaik di Dunia

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Di era Cognitive Warfare (perang pemikiran), ancaman terhadap sebuah bangsa tidak lagi hadir dalam bentuk serangan fisik atau peluru, melainkan melalui narasi, manipulasi informasi, dan infiltrasi budaya.

Perang jenis ini menyasar cara berpikir, emosi kolektif, serta kepercayaan diri masyarakat. Karena itu, dibutuhkan teknik menangkis serangan sosial dan logika sosial yang mampu melemahkan kohesi bangsa.

Dalam konteks inilah, kesejahteraan psikologis menjadi instrumen strategis ketahanan nasional.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Indonesia memiliki peluang besar untuk menempatkan kesejahteraan psikologis sebagai fondasi pembangunan nasional.

Masyarakat yang semakin terhubung secara digital menghadapi tekanan ekonomi, sosial, dan teknologi yang kian kompleks. Namun, kemajuan sebuah bangsa tidak semata diukur dari pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kualitas kesehatan mental warganya.

Mewujudkan Indonesia sebagai negara dengan kesejahteraan psikologis terbaik di dunia bukanlah utopia, melainkan agenda visioner yang menuntut arah kebijakan yang jelas, komitmen kolektif, dan transformasi budaya.

Kesejahteraan psikologis merujuk pada kondisi individu yang mampu berfungsi secara optimal, memiliki ketahanan emosional, rasa aman, relasi sosial yang sehat, serta makna hidup yang kuat.

Ia tidak hanya berarti bebas dari gangguan mental, tetapi juga ditandai oleh hadirnya harapan, kepuasan hidup, kepercayaan diri, dan kemampuan beradaptasi di tengah perubahan. Dalam situasi perang narasi dan disrupsi informasi, individu yang sejahtera secara psikologis tidak mudah terprovokasi, terpolarisasi, maupun kehilangan daya kritis.

Contoh kesejahteraan psikologis dapat dilihat dalam berbagai lapisan kehidupan. Pelajar yang mampu mengelola tekanan akademik dan tetap termotivasi menunjukkan daya tahan mental yang baik.

Di dunia kerja, karyawan yang merasa dihargai, memiliki keseimbangan hidup, serta bekerja tanpa tekanan destruktif mencerminkan lingkungan psikologis yang sehat. Sementara di tingkat keluarga, hubungan yang hangat, terbuka, dan saling mendukung menjadi benteng awal ketahanan sosial.

Namun, kesejahteraan psikologis bukan semata tanggung jawab individu. Ia membutuhkan dukungan sistemik. Negara perlu memastikan sistem pendidikan yang membangun ketangguhan emosional sejak dini, layanan kesehatan mental yang mudah diakses hingga ke pelosok, serta dunia kerja yang menjunjung nilai kemanusiaan.

Pendekatan holistik berbasis data dan bukti ilmiah menjadi kunci dalam membangun kualitas hidup yang berkelanjutan.

Komitmen pemerintah dalam regulasi, pendanaan, dan infrastruktur kesehatan mental harus berjalan beriringan dengan partisipasi aktif masyarakat. Tanpa literasi psikologis yang memadai, masyarakat rentan terhadap disinformasi, ujaran kebencian, dan konflik horizontal.

Oleh karena itu, peningkatan kesadaran publik tentang kesehatan mental bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga bagian dari strategi menjaga stabilitas sosial dan persatuan bangsa.

Indonesia memiliki potensi besar untuk membangun identitas baru sebagai bangsa yang tidak hanya kuat secara ekonomi dan politik, tetapi juga tangguh secara psikologis.

Dengan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, dan komunitas, Indonesia dapat memasuki era baru, era ketika kesejahteraan psikologis menjadi aset nasional yang memperkuat persatuan, produktivitas, dan optimisme kolektif.

Ini bukan sekadar agenda kesehatan, melainkan investasi strategis bagi masa depan bangsa. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)