Ini Skema Lengkap Pembelajaran Tatap Muka Sekolah di Ramadan 2026

Ini Skema Lengkap Pembelajaran Tatap Muka Sekolah di Ramadan 2026

Pembelajaran Ramadan 2026: Sekolah Fokus Penguatan Karakter dan Spiritual

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Ramadan 2026 di Indonesia dipastikan bakal membawa perubahan besar bagi jutaan murid di seluruh negeri.

Tidak lagi sekadar mengejar angka dan nilai akademik, pembelajaran selama bulan suci kali ini akan lebih mengedepankan pendidikan karakter dan spiritualitas.

Dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) yang digelar pada Kamis (5/2/2026), pemerintah mengumumkan kebijakan baru yang akan mempengaruhi jadwal dan pola pembelajaran di sekolah selama Ramadan.

Sekolah Jadi Tempat Penguatan Karakter

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) mengungkapkan bahwa selama bulan Ramadan, sekolah akan menjadi tempat yang lebih ramah dan mendukung tumbuh kembang karakter anak.

Salah satu langkah utamanya adalah mengganti sebagian besar kegiatan akademik dengan program-program yang mengasah hati dan kepedulian sosial, seperti pesantren kilat, tadarus bersama, dan kajian keislaman.

Meski penekanan pada kegiatan spiritual lebih kuat di sekolah-sekolah Muslim, konsep ini juga bersifat inklusif.

Siswa non-Muslim akan mendapatkan bimbingan rohani sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing, sehingga semua siswa dapat merasakan atmosfer spiritual yang menyeluruh.

Ramadan: Waktu untuk Meningkatkan Empati dan Gotong Royong

Menko PMK, Pratikno, mengungkapkan bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai empati, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.

“Kami ingin anak-anak belajar melalui aksi nyata, bukan hanya teori,” ujarnya.

Oleh karena itu, kegiatan yang berfokus pada tindakan sosial akan lebih banyak diadakan, termasuk bagi-bagi takjil, lomba adzan, hingga kompetisi cerdas cermat yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga menyenangkan.

Gerakan “Satu Jam Tanpa Gawai”

Di tengah berkembangnya teknologi, pemerintah juga menekankan pentingnya interaksi sosial di dunia nyata. Salah satu ajakan menarik yang akan diterapkan selama Ramadan adalah gerakan “Satu Jam Tanpa Gawai”.

Dalam gerakan ini, siswa diminta untuk berinteraksi lebih banyak di luar layar digital, seperti bermain atau berdiskusi dengan teman-teman mereka secara langsung.

Skema Pembelajaran Ramadan 2026

Pemerintah telah menetapkan jadwal pembelajaran yang berbeda untuk bulan Ramadan 2026, dengan rincian sebagai berikut:

18 – 20 Februari 2026: Pembelajaran dilaksanakan di luar sekolah, seperti tugas mandiri atau kegiatan lapangan.

23 Februari – 16 Maret 2026: Pembelajaran tatap muka di sekolah dengan fokus pada penguatan karakter dan materi keagamaan.

23 – 27 Maret 2026: Libur pasca-Ramadan untuk menyambut Idulfitri.

Pesan untuk Daerah: Fleksibel dalam Penerapan

Pemerintah daerah dan kepala sekolah diharapkan tidak kaku dalam menerapkan aturan baru ini.

Meskipun pedoman umum sudah ditetapkan, setiap daerah diminta untuk menyesuaikan kebijakan dengan kondisi lokal, namun tetap menjaga substansi bahwa Ramadan adalah waktu untuk fokus pada pendidikan karakter dan rohani, bukan sekadar akademik.

Dukungan Penuh dari Kementerian Pendidikan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, juga memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan ini.

Ia menekankan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang inklusif, tidak hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga mengembangkan karakter dan moral siswa dengan cara yang menyenangkan dan bermanfaat. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG