Jusuf Kalla, “Siri’na Mangkasara”: Saat Lugas Menjadi Sikap dan Diam Bukan Pilihan

Jusuf Kalla, “Siri’na Mangkasara”: Saat Lugas Menjadi Sikap dan Diam Bukan Pilihan

HARIAN.NEWS, GOWA – Di tengah riuh politik yang sering penuh basa-basi, Jusuf Kalla justru tampil dengan satu gaya yang makin langka ” lugas, tegas, dan langsung ke inti. Konferensi persnya beberapa waktu lalu bukan sekadar pernyataan itu adalah sinyal karakter.

Bagi sebagian orang, itu terlihat keras. Bagi orang Makassar, itu biasa. Karena dalam falsafah “siri’na Mangkasara”, ada satu prinsip yang tidak bisa ditawar: teai mangkasara punna bokona loko (bukan orang Makassar jika hanya bicara di belakang)

Lugas Itu Bukan Kasar, Itu Kejujuran yang Tidak Ditunda

Dalam banyak kesempatan, JK tidak berbicara untuk menyenangkan. Ia berbicara untuk menyelesaikan. Gaya “hantam lurus” itu bukan kebetulan. Itu hasil dari perjalanan panjang sebagai:

1.Negosiator konflik
2.Pengambil keputusan
3.Dan pemikul risiko

Di dunia yang penuh diplomasi berlapis, JK memilih jalan lain yaitu langsung, jelas, dan bertanggung jawab.

Dari Perdamaian ke Politik: Konsistensi dalam Tekanan

Sebagai tokoh di balik penyelesaian konflik seperti Perjanjian Helsinki 2005, JK tidak hanya bicara ia membuktikan. Sebagai pengusaha di Kalla Group, ia tidak hanya merancang, ia mengeksekusi.

Sebagai politisi senior, ia tidak hanya hadir, ia menentukan arah. Dalam semua peran itu, satu hal tetap sama: tidak ada ruang untuk ragu-ragu dalam mengambil posisi.

Ketika Buzzer Salah Pilih Lawan

Di era digital, siapa pun bisa berbicara. Termasuk mereka yang menyerang tanpa memahami siapa yang mereka hadapi. Namun di sini masalahnya, Bagi buzzer, “Jusuf Kalla” mungkin hanya nama. Tapi bagi orang Makassar, itu adalah simbol. Simbol dari:

1.siri’ (harga diri)
2.pacce (empati yang dalam)

Dan ketika simbol itu disentuh tanpa pemahaman, responnya bukan sekadar bantahan melainkan pengingat identitas.

Tau Mangkasara Tidak Bersembunyi

Dalam budaya Makassar, ada satu cara sederhana untuk menjawab serangan yaitu perkenalan diri secara terbuka.

1.Bukan dengan anonimitas.
2.Bukan dengan akun palsu.
3.Bukan dengan bisik-bisik digital.

Karena orang Makassar tidak berbicara dari belakang. Jika ingin mengkritik, lakukan di depan.Jika ingin menyerang, tunjukkan diri. Itulah “tau mangkasara.”

JK Bukan Sekadar Tokoh, Ia Representasi

Jusuf Kalla bukan hanya mantan wakil presiden, pengusaha sukses, atau politisi senior.Ia adalah representasi dari satu nilai yang makin jarang.berani berkata benar, di depan, tanpa sembunyi.Dan mungkin itu yang membuat sebagian orang tidak nyaman.Karena di tengah dunia yang penuh topeng, kejujuran yang terlalu terang memang terasa menyilaukan. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : SULTAN (Aktivis Muda Tombolo Pao Gowa)