Ketika Kalender Mengajarkan Cinta dan Keheningan

Ketika Kalender Mengajarkan Cinta dan Keheningan

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Ada masa ketika lembaran kalender tidak sekadar menandai tanggal, tetapi seperti merangkai pelajaran batin yang utuh. Bagaimana mencintai, berharap, menahan diri, dan berdiam.

Dalam rentang waktu yang berdekatan, kita bisa menjumpai Hari Valentine, Tahun Baru Imlek, Hari Raya Nyepi, dan Ramadan. Empat momen dengan akar tradisi yang berbeda, namun semuanya berbicara tentang cinta, pembaruan, dan perenungan.

Mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang merayakan kebahagiaan, tetapi juga memberi ruang bagi keheningan agar hati tetap jernih dan manusiawi.

Hari Valentine dipahami sebagai perayaan kasih sayang yang personal. Terlepas dari sisi komersialnya, ia mengingatkan kita bahwa manusia membutuhkan ungkapan cinta yang nyata, kata-kata yang lembut, perhatian kecil, atau sekadar kehadiran. Cinta di sini bersifat intim dan hangat, berpusat pada hubungan antarmanusia.

Tak lama kemudian, suasana berganti dengan semarak Tahun Baru Imlek. Lentera merah, doa, dan tradisi berkumpul bersama keluarga menandai harapan akan rezeki dan keberuntungan di tahun yang baru. Namun lebih dari itu, Imlek adalah tentang rekonsiliasi, menghapus utang maaf sebelum lembaran baru dibuka.

Ada kesadaran bahwa hidup berjalan dalam siklus, dan setiap awal adalah kesempatan memperbaiki diri.

Setelah riuh perayaan, hadir keheningan Hari Raya Nyepi. Selama sehari, Bali seakan berhenti bernapas. Tak ada perjalanan, tak ada hiburan, bahkan lampu diredupkan. Dalam diam itu, manusia diajak menatap ke dalam diri. Nyepi mengajarkan bahwa pembaruan tak selalu datang dari keramaian, kadang ia lahir dari sunyi yang jujur.

Kemudian tibalah Ramadan, bulan suci yang mengajak umat Muslim berpuasa, menahan diri, dan memperbanyak empati. Lapar dan dahaga menjadi guru yang halus, mengingatkan bahwa kasih sayang bukan hanya perasaan, tetapi tindakan nyata kepada mereka yang kekurangan. Ramadan memperluas makna cinta, dari relasi personal menuju solidaritas sosial dan kedekatan spiritual.

Jika direnungkan, keempat momen ini seperti empat sisi dari satu cermin kemanusiaan. Valentine berbicara tentang cinta yang diungkapkan, Imlek tentang harapan dan kebersamaan, Nyepi tentang refleksi diri, dan Ramadan tentang pengendalian serta empati.

Berdekatan dalam kalender, mereka seolah menyusun perjalanan batin, dari memberi hati kepada sesama, berdamai dengan masa lalu, menyelami diri sendiri, hingga menguatkan hubungan dengan Tuhan dan masyarakat.

Dalam dunia yang sering terpecah oleh perbedaan, kedekatan momen-momen ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai universal selalu menemukan jalannya. Cinta, harapan, keheningan, dan pengendalian diri bukanlah milik satu budaya atau agama saja.

Ia adalah bahasa bersama yang, jika didengar dengan hati terbuka, mampu
menjembatani sekat-sekat identitas.

Mungkin di situlah makna terdalamnya, ketika berbagai perayaan berdampingan, kita diajak menyadari bahwa kemanusiaan kita pun berdampingan, beragam, tetapi saling melengkapi.
***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)