Laki-Laki Hebat? Jangan Lupa yang di Balik Layar!

Laki-Laki Hebat? Jangan Lupa yang di Balik Layar!

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Rabu malam di Warkop DK10 selalu punya cerita. Lampu temaram, kopi hitam pekat, dan tiga sahabat rasa saudara—Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio—kembali duduk di meja langganan. Obrolan yang awalnya ringan, seperti biasa, pelan-pelan berubah jadi “isi kepala”.

“Sekarang perempuan itu sudah jauh maju,” buka Om Haria sambil mengaduk kopi.
“Bukan cuma di dapur, tapi sudah sampai ke kursi pimpinan.”

Deng Kio langsung mengangguk cepat.
“Betul itu, Om. Kepala desa, kepala daerah, sampai anggota dewan, banyak perempuan sekarang.”

Mas Bro tersenyum tipis.
“Artinya kepercayaan publik juga meningkat. Bukan lagi soal laki-laki atau perempuan, tapi siapa yang mampu.”

Om Haria menimpali,
“Ya, ini buah perjuangan emansipasi. Perempuan sekarang bukan pelengkap, tapi penentu.”

Deng Kio tiba-tiba nyambungin,
“Tapi jangan lupa, sehebat-hebatnya perempuan, tetap punya banyak peran.”

Mas Bro mengangguk.
“Itu justru hebatnya perempuan. Bisa jadi pemimpin, ibu, sekaligus istri dalam waktu bersamaan.”

Belum sempat obrolan lanjut, tiba-tiba dari meja sebelah terdengar suara nyeletuk:

“Eh, jangan salah… justru laki-laki yang sering tidak kuat kalau disuruh rangkap tiga begitu!”

Ternyata Daeng La’lang, yang dari tadi diam sambil seruput kopi, ikut nimbrung.

Semua langsung tertawa.

“Jujur saja,” lanjut Daeng La’lang santai,
banyak laki-laki hebat itu bukan berdiri sendiri. Ada perempuan tangguh di belakangnya.

Deng Kio langsung tepuk meja.
“Nah ini! Baru benar itu!”

Om Haria ikut tersenyum lebar.
“Makanya jangan sombong jadi laki-laki. Merasa paling hebat karena jadi kepala keluarga.”

Mas Bro menambahkan dengan nada santai tapi dalam,
“Kalau rumah tangga itu tim. Bukan kompetisi siapa paling kuat.”

Deng Kio kembali menyindir,
“Kadang ada yang merasa paling berjasa karena cari nafkah. Padahal yang atur rumah, jaga anak, itu juga kerja besar.”

Daeng La’lang mengangguk pelan.
“Yang di belakang layar sering tidak terlihat, tapi justru paling menentukan.”

Suasana mendadak hening sejenak.

Seolah semua sepakat, tanpa perlu banyak kata.

Om Haria akhirnya menutup obrolan dengan kalimat sederhana:
Di balik laki-laki hebat, memang ada perempuan tangguh. Tapi yang lebih hebat lagi… kalau keduanya saling menguatkan.”

Mas Bro mengangkat cangkir kopinya.
“Setuju. Bukan siapa di depan atau di belakang, tapi siapa yang tetap jalan bersama.”

Deng Kio tersenyum.
“Kalau begitu, jangan cuma cari pasangan… cari juga partner hidup.”

Daeng La’lang menutup dengan gaya khasnya:
“Dan jangan lupa… kopi juga harus seimbang. Terlalu pahit, nggak enak. Terlalu manis, juga nggak kuat!”

Semua kembali tertawa.

Kopi habis.
Obrolan selesai.
Tapi maknanya… masih tinggal. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG