LCC 4 Pilar, Yang Salah Jawaban atau Penilaiannya?

LCC 4 Pilar, Yang Salah Jawaban atau Penilaiannya?

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Kamis malam di Warkop DK10 kembali ramai. Seperti biasa, Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio duduk di meja pojok langganan mereka. Kopi hitam sudah mengepul, gorengan tinggal separuh nampan, sementara obrolan mulai menghangat.

“Sudah dengar belum soal LCC Empat Pilar yang lagi ramai itu?” tanya Om Haria sambil menyeruput kopi.

Deng Kio langsung angkat alis.
“Yang jawaban sama tapi nilainya beda itu?”

Mas Bro tertawa kecil.
“Kalau itu bukan cerdas cermat lagi, hampir jadi tebak-tebakan.”

Ketiganya pun tertawa.

Om Haria lalu menjelaskan bagaimana publik ramai memperbincangkan final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar tingkat Sumatera Selatan di Palembang setelah muncul video jawaban peserta yang dianggap janggal.

“Yang bikin ramai bukan cuma jawabannya,” kata Om Haria.
“Tapi cara menyikapi protesnya.”

Deng Kio langsung menimpali,
“Nah itu! Kadang orang bisa terima salah, asal dijelaskan baik-baik.”

Mas Bro mengangguk pelan.
“Karena lomba itu bukan cuma soal menang kalah. Ada nilai edukasi di dalamnya.”

Suasana sempat hening sejenak.

Mas Bro kembali melanjutkan,
“Apalagi ini membawa nama Empat Pilar. Harusnya semangat musyawarah, menghargai pendapat, dan bijaksana lebih dikedepankan.”

Deng Kio terkekeh.
“Kalau semua protes dijawab: ‘keputusan tetap di juri’, ya lama-lama peserta takut protes.”

Belum selesai tertawa, tiba-tiba dari meja sebelah terdengar suara khas:

“Kalau begitu bukan lomba cerdas cermat… tapi lomba cepat-cepat terima nasib!”

Ternyata Daeng La’lang ikut nimbrung sambil membawa pisang goreng.

Semua langsung pecah tertawa.

Daeng La’lang duduk mendekat lalu berkata santai,
“Juri itu bukan cuma harus pintar. Tapi juga harus besar hati.”

Om Haria langsung menunjuk Daeng La’lang.
“Nah! Ini baru komentar berbobot.”

Mas Bro menambahkan,
“Kesalahan itu manusiawi. Tapi keberanian mengakui kesalahan, itu yang luar biasa.”

Deng Kio ikut mengangguk.
“Makanya publik justru apresiasi ketika ada permintaan maaf dan evaluasi.”

Menurut Mas Bro, kejadian itu harus jadi pelajaran penting, terutama dalam dunia pendidikan.

“Karena anak-anak bukan cuma belajar jawaban benar atau salah,” katanya.
“Mereka juga belajar tentang keadilan, sikap bijak, dan menghargai orang lain.”

Daeng La’lang kembali nyeletuk sambil tertawa kecil,
“Kalau Empat Pilar cuma dihafal tapi tidak dipraktikkan, nanti pilarnya berdiri… tapi atapnya roboh!”

Sekali lagi meja Warkop DK10 pecah oleh tawa.

Om Haria lalu menutup obrolan malam itu dengan nada santai namun penuh makna.

Pengalaman memang guru terbaik. Yang penting setelah salah, mau belajar jadi lebih baik.”

Mas Bro mengangkat cangkir kopinya.
“Karena yang paling dihargai bukan orang yang selalu benar…”

Deng Kio langsung menyambung,
“…tapi orang yang mau memperbaiki kesalahan.”

Daeng La’lang tersenyum sambil menggigit gorengan terakhir.
“Dan yang paling penting…”

Semua menoleh.

“Kalau lomba cerdas cermat, jangan sampai penontonnya yang lebih cerdas!”

Warkop DK10 kembali pecah oleh gelak tawa.

Kopi habis.
Obrolan selesai.
Tapi pesannya… masih terus terasa. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG