Pengajian Dekave #1: Merawat Imajinasi Kreatif dari Balik Sebuah Visual

Pengajian Dekave #1: Merawat Imajinasi Kreatif dari Balik Sebuah Visual

HARIAN.NEWS, BULUKUMBA – Di tengah derasnya arus gambar yang setiap hari melintasi layar gawai, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: dari mana sebuah visual memperoleh maknanya?

Sebagian besar orang menikmati hasil akhirnya, tetapi sedikit yang bersedia menelusuri proses panjang yang melahirkannya. Padahal, di balik setiap poster, sampul buku, logo, ilustrasi, hingga identitas sebuah gerakan, selalu ada kerja sunyi yang kerap luput dari perhatian.

Keresahan itulah yang menjadi pijakan lahirnya Pengajian Dekave #1, sebuah ruang belajar daring yang digagas Rumah Buku SaESA sebagai ikhtiar mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan kegelisahan tentang dunia Desain Komunikasi Visual (DKV).

Melalui tema “Bagaimana Dekave Membentuk Imajinasi Kreatif”, forum ini tidak sekadar mengajak peserta memahami estetika visual, melainkan mengembalikan desain pada hakikatnya sebagai cara manusia berpikir, membaca kenyataan, dan membangun peradaban.

Di tengah budaya serba instan, kreativitas kerap direduksi menjadi kemampuan meniru tren yang sedang ramai. Visual diproduksi dengan cepat, tetapi miskin gagasan.

Akibatnya, lahirlah apa yang dapat disebut sebagai akal karbitan—pengetahuan yang tumbuh tanpa akar, mengutamakan hasil tanpa memahami proses. Dalam keadaan seperti ini, desain kehilangan daya kritisnya dan hanya menjadi pelengkap industri.

Padahal, DKV bukan sekadar persoalan warna, tipografi, atau komposisi. Ia adalah bahasa yang menyampaikan nilai, membangun ingatan kolektif, sekaligus menjadi jembatan antara gagasan dan masyarakat.

Setiap karya visual menyimpan sejarah, konteks, dan cara pandang yang membentuk imajinasi publik. Karena itu, memahami desain berarti memahami bagaimana manusia memaknai dunia.

Untuk membuka ruang percakapan tersebut, Rumah Buku SaESA menghadirkan Dr. Sumbo Tinarbuko, penulis sekaligus dosen DKV ISI Yogyakarta, sebagai narasumber utama.

Dengan pengalaman panjang di bidang desain komunikasi visual, ia diharapkan dapat mengajak peserta melihat DKV tidak hanya sebagai disiplin akademik, tetapi juga sebagai praktik kebudayaan yang terus berkembang mengikuti zaman.

Diskusi akan dipandu oleh Musakkir Basri dari Sekolah Anak Desa, yang selama ini aktif membangun ruang-ruang belajar alternatif berbasis literasi, arsip, dan kebudayaan.

Kehadiran moderator dari gerakan literasi menjadi penanda bahwa desain dan literasi bukanlah dua wilayah yang terpisah. Keduanya saling menghidupi, sama-sama bertugas menjaga pengetahuan agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar kelas daring, Pengajian Dekave merupakan ajakan untuk kembali memandang pengetahuan sebagai ruang yang terbuka. Tidak ada batas yang memisahkan seni, desain, sastra, arsip, maupun kehidupan sehari-hari.

Semua saling berkelindan dan memberi makna satu sama lain. Sebab, belajar bukanlah upaya mengotakkan ilmu, melainkan keberanian menelusuri hubungan-hubungan yang selama ini tersembunyi.

Rumah Buku SaESA berharap forum ini dapat menjadi titik temu bagi siapa pun yang percaya bahwa kreativitas lahir dari kebiasaan membaca, berdialog, dan mengarsipkan pengalaman.

Ketika manusia berhenti mencari, saat itulah imajinasi perlahan kehilangan nyawanya.

Sebaliknya, selama masih ada ruang untuk bertanya, pengetahuan akan terus menemukan jalannya.

Pengajian Dekave #1 akan diselenggarakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, pukul 19.45 WITA (18.45 WIB) hingga selesai melalui Google Meet. Kegiatan ini terbuka bagi masyarakat yang ingin memperluas perspektif mengenai desain komunikasi visual sebagai bagian dari gerakan pengetahuan dan kebudayaan.

Pada akhirnya, desain bukan hanya tentang apa yang terlihat. Adalah cara manusia mengingat, menyampaikan, dan membayangkan masa depan.

Sebagaimana keyakinan yang terus dirawat Rumah Buku SaESA, hidup sesungguhnya adalah perjalanan panjang untuk terus mencari.***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : SAKKIR (KOMUNITAS RUMAH BUKU)