HARIAN.NEWS, BULUKUMBA – Di tengah derasnya arus gambar yang setiap hari melintasi layar gawai, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: dari mana sebuah visual memperoleh maknanya?
Sebagian besar orang menikmati hasil akhirnya, tetapi sedikit yang bersedia menelusuri proses panjang yang melahirkannya. Padahal, di balik setiap poster, sampul buku, logo, ilustrasi, hingga identitas sebuah gerakan, selalu ada kerja sunyi yang kerap luput dari perhatian.
Baca Juga : HUT ke-65, IKWI Sulsel Usung Budaya Lokal, Siapkan Koperasi Anggota
Keresahan itulah yang menjadi pijakan lahirnya Pengajian Dekave #1, sebuah ruang belajar daring yang digagas Rumah Buku SaESA sebagai ikhtiar mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan kegelisahan tentang dunia Desain Komunikasi Visual (DKV).
Melalui tema “Bagaimana Dekave Membentuk Imajinasi Kreatif”, forum ini tidak sekadar mengajak peserta memahami estetika visual, melainkan mengembalikan desain pada hakikatnya sebagai cara manusia berpikir, membaca kenyataan, dan membangun peradaban.
Di tengah budaya serba instan, kreativitas kerap direduksi menjadi kemampuan meniru tren yang sedang ramai. Visual diproduksi dengan cepat, tetapi miskin gagasan.
Baca Juga : Mahasiswa Unhas Resmikan Rocket Stove Ramah Lingkungan di Maros
Akibatnya, lahirlah apa yang dapat disebut sebagai akal karbitan—pengetahuan yang tumbuh tanpa akar, mengutamakan hasil tanpa memahami proses. Dalam keadaan seperti ini, desain kehilangan daya kritisnya dan hanya menjadi pelengkap industri.
Padahal, DKV bukan sekadar persoalan warna, tipografi, atau komposisi. Ia adalah bahasa yang menyampaikan nilai, membangun ingatan kolektif, sekaligus menjadi jembatan antara gagasan dan masyarakat.
Setiap karya visual menyimpan sejarah, konteks, dan cara pandang yang membentuk imajinasi publik. Karena itu, memahami desain berarti memahami bagaimana manusia memaknai dunia.
Baca Juga : Sampah dan Hipertensi Jadi Fokus Hasil PBL Mahasiswa FKM Unhas di Majjelling Wattang
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
