Logo Harian.news

Rektor Unismuh Makassar Dorong Masyarakat Bersiap Hadapi Krisis Air

Editor : Redaksi II Rabu, 23 September 2026 16:11
Rektor Unismuh Makassar Rachim Nanda saat menyampaikan ulasannya tentang krisis air di Taiwan. (Dok. Unismuh)
Rektor Unismuh Makassar Rachim Nanda saat menyampaikan ulasannya tentang krisis air di Taiwan. (Dok. Unismuh)

HARIAN.NEWS, TAIWAN – Ketahanan air tidak cukup dibangun melalui bendungan, drainase, maupun infrastruktur fisik. Di tengah perubahan iklim dan cuaca ekstrem, ketahanan air juga membutuhkan masyarakat yang mampu beradaptasi, teknologi yang tepat guna, ekosistem yang terjaga, serta tata kelola yang adil.

Hal itu disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Ir H Abd Rakhim Nanda ST MT IPU, saat memberikan kuliah umum di Chaoyang University of Technology (CYUT), Taiwan, Selasa (22/9/2026).

Baca Juga : Angkat Isu Jurnalis dan Kekerasan Anak, Film Memburu Pemangsa Disambut Antusias Warga Makassar

Dalam kuliah umum bertajuk “Water Resilience: Empowering Communities, Securing a Sustainable Future—From Resilient Infrastructure to Resilient Communities in a Changing Climate” tersebut, Rakhim mengajak peserta melihat persoalan air dari perspektif yang lebih luas.

Menurut dia, tantangan air saat ini tidak hanya berkaitan dengan kekurangan pasokan. Masyarakat juga menghadapi air yang berlebihan akibat banjir dan cuaca ekstrem, kekeringan yang semakin sering terjadi, serta pencemaran air akibat persoalan sanitasi dan kerusakan ekosistem.

Kondisi tersebut, kata Rakhim, membutuhkan perubahan cara pandang dalam membangun sistem ketahanan air.

Baca Juga : Wisuda 603 Lulusan, Poltekpar Makassar Ungkap Capaian Job Fair dan UI GreenMetric

Jika pendekatan lama lebih banyak berfokus pada upaya mengendalikan ancaman dan melindungi infrastruktur, pendekatan resiliensi menuntut sistem yang mampu mengantisipasi gangguan, menyerap tekanan, beradaptasi, pulih, hingga berubah mengikuti kondisi yang berkembang.

“Resilience is built with communities—not simply for them,” kata Rakhim dalam paparannya dikutip, Rabu (23/09/2026).

Ia menekankan, masyarakat tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan infrastruktur. Masyarakat perlu dilibatkan sebagai peserta, mitra, hingga pihak yang ikut memiliki tanggung jawab terhadap sistem ketahanan yang dibangun.

Baca Juga : Poltekpar Makassar Gelar EduRun Tourism 2026, Peserta Bakal Jelajahi Rute Pesisir

Dalam kuliah tersebut, Rakhim memperkenalkan kerangka konseptual RIVER sebagai pendekatan untuk membangun ketahanan air berbasis masyarakat.

RIVER merupakan singkatan dari Resilient Infrastructure, Intelligent Water Systems, Vital Ecosystems, Empowered Communities, serta Responsive and Equitable Governance.

Kelima unsur tersebut, menurut Rakhim, perlu berjalan secara terintegrasi untuk menciptakan keamanan air sekaligus membangun masyarakat yang mampu menghadapi perubahan.

Baca Juga : Unismuh Makassar Kian Diminati Mahasiswa Berbagai Negara

Pada aspek infrastruktur, ketangguhan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan struktur dalam menghadapi gangguan. Infrastruktur juga harus memiliki cadangan sistem, fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi ketika kondisi berubah.

“Pertanyaannya bukan hanya seberapa kuat infrastruktur menghadapi gangguan, tetapi apakah pelayanan air yang esensial tetap dapat berjalan ketika situasi tidak sesuai dengan yang diperkirakan,” ujarnya.

Karena itu, desain infrastruktur perlu mempertimbangkan ketidakpastian dan tidak semata-mata bergantung pada pola historis.

Rakhim juga menyoroti pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan air. Menurutnya, digitalisasi seharusnya tidak berhenti pada pengumpulan data.

Sistem air cerdas, kata dia, harus mampu membaca kondisi, memprediksi risiko, membantu pengambilan keputusan, mendorong tindakan, dan belajar dari pengalaman.

“The smartest system is not the one with the most data—but the one that turns data into timely protection,” ujarnya.

Dalam pengelolaan lingkungan, Rakhim mendorong agar pembangunan tidak mempertentangkan infrastruktur buatan dengan sistem alam.

Menurut dia, infrastruktur terbangun, ruang hijau, dan sistem air perlu dirancang secara terintegrasi sehingga air dapat ditangkap, diserap, ditahan, disimpan, digunakan kembali, dan dilepaskan secara aman.

“We cannot build water resilience by engineering against nature. We must increasingly engineer with nature,” katanya.

Selain teknologi dan infrastruktur, ia menilai aspek keadilan harus menjadi bagian dari tata kelola air.

Rakhim mengajak peserta melihat sejumlah pertanyaan mendasar dalam pengelolaan sumber daya air, mulai dari siapa yang mengambil keputusan, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung biaya dan risiko, hingga siapa yang berpotensi tertinggal.

Menurut dia, ketahanan air tidak dapat dilepaskan dari persoalan sosial karena keputusan mengenai air turut menentukan bagaimana manfaat dan risiko pembangunan didistribusikan kepada masyarakat.

Dalam paparannya, Rakhim juga mengangkat pengalaman Taiwan menghadapi kekeringan pada 2020-2021.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun sistem air yang tidak bergantung pada satu sumber. Interkoneksi jaringan air antardaerah, penggunaan kembali air, desalinasi, dan pengembangan sistem air cerdas menjadi bagian dari upaya diversifikasi.

“Ketahanan tidak dibangun melalui satu sumber air yang dianggap sempurna, tetapi melalui sejumlah sistem yang dapat saling menopang ketika salah satunya mengalami tekanan,” katanya.

Rakhim juga melihat terdapat peluang kolaborasi antara Indonesia dan Taiwan dalam pengembangan ketahanan air.

Taiwan memiliki pengalaman dalam rekayasa presisi, teknologi air cerdas, infrastruktur, serta penggunaan kembali dan diversifikasi air. Sementara Indonesia memiliki karakter kepulauan, daerah aliran sungai tropis, komunitas pesisir, dan ruang pengembangan laboratorium sosial-ekologis.

Kolaborasi perguruan tinggi kedua negara, menurut Rakhim, dapat dikembangkan tidak hanya dalam pertukaran pengetahuan, tetapi juga penelitian bersama, inovasi, proyek percontohan, hingga program yang memberikan dampak kepada masyarakat.

Ia juga mendorong perguruan tinggi berperan sebagai living laboratory atau laboratorium hidup. Kampus tidak hanya menjadi tempat untuk meneliti persoalan lingkungan, tetapi juga menunjukkan praktik nyata melalui penelitian, pendidikan, inovasi, kebijakan, dan keterlibatan masyarakat.

Di akhir kuliah, Rakhim menekankan pentingnya perubahan cara pandang dalam pengelolaan air, yakni dari upaya mengendalikan air menuju hidup berdampingan dengan air, dari membangun infrastruktur tangguh menuju masyarakat tangguh, serta dari sekadar water management menuju water stewardship atau pengelolaan air yang dilandasi tanggung jawab.

“Water resilience is ultimately not about protecting water systems. It is about protecting life,” ujar Rakhim.

“The future of water is the future of humanity,” lanjutnya.

Kuliah umum tersebut berlangsung di Gedung Teknik E-409 CYUT. Kegiatan dipandu Wakil Presiden CYUT Dr Sung-Chi Hsu dan dihadiri Ketua Departemen Teknik Sipil dan Konstruksi CYUT Dr Keng-Tsang Hsu.

Gagasan mengenai ketahanan air yang disampaikan Rakhim juga berkaitan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang air bersih dan sanitasi layak, SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta SDG 17 tentang kemitraan.

 

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda