Siapa Hendrik Irawan? Mitra MBG yang Kini Terjerat Polemik Rp6 Juta per Hari

Siapa Hendrik Irawan? Mitra MBG yang Kini Terjerat Polemik Rp6 Juta per Hari

Tak Terima Dikaitkan dengan Rp6 Juta, Mitra MBG Hendrik Irawan Tempuh Jalur Hukum

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Nama Hendrik Irawan tiba-tiba mencuat menjadi pusat perhatian publik setelah sebuah video dirinya berjoget viral di media sosial.

Narasi yang melekat dalam tayangan tersebut sontak membuat publik bertanya-tanya: benarkah ia menerima insentif Rp6 juta per hari dari program Makan Bergizi Gratis (MBG)?

Polemik ini memicu spekulasi liar di ruang digital. Warganet ramai-ramai mempertanyakan kebenaran informasi tersebut, hingga akhirnya menimbulkan polemik yang berpotensi mencederai citra program unggulan pemerintah di bidang gizi anak tersebut.

Klarifikasi Hendrik: “Itu Bukan Uang Joget, Tapi Hak Mitra”

Merasa namanya tercoreng dan informasi yang beredar tidak sesuai fakta, Hendrik Irawan akhirnya angkat bicara. Dengan tegas ia membantah narasi yang menyebut dirinya mendapatkan uang Rp6 juta hanya untuk berjoget.

“Dalam petunjuk teknis (Juknis) program MBG sudah dijelaskan dengan jelas bahwa mitra berhak menerima insentif operasional sebesar Rp6 juta per hari. Itu bukan uang joget, itu hak yang diatur secara resmi. Informasi yang beredar di media sosial telah dipelintir dan sangat merugikan saya secara pribadi,” tegas Hendrik dalam video klarifikasi di IG pribadinya @hendrikirawan_d1213mbg, dilihat Rabu, 25/3/2026.

Bukan Sekadar Mitra, Hendrik Irawan Gelontorkan Rp3,5 Miliar

Lebih lanjut, Hendrik menjelaskan peran dan komitmennya dalam program MBG. Ia bukan sekadar mitra biasa.

Pria yang tergabung dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, ini memiliki tanggung jawab besar mulai dari pengelolaan dapur, penyediaan menu bergizi, hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah.

Yang membuat publik semakin penasaran adalah pengakuan Hendrik mengenai investasi pribadinya.

Demi kelancaran program ini, ia mengaku telah menggelontorkan dana hingga Rp3,5 miliar untuk membangun dapur SPPG.

“Saya membangun dapur ini dari uang pribadi karena saya percaya program ini bagus untuk anak-anak. Tiba-tiba saya digambarkan seperti orang yang hanya mengejar uang joget. Ini sangat tidak adil,” ujarnya dengan nada kesal.

Aktif di TikTok untuk Transparansi, Kini Berujung Hukum

Selama ini, Hendrik memang aktif membagikan aktivitasnya melalui akun TikTok @mitrapangaubanbatujajar. Mulai dari proses memasak di dapur MBG, distribusi makanan, hingga konten hiburan ringan seperti joget, ia unggah sebagai bentuk transparansi dan edukasi kepada publik.

Namun, konten yang seharusnya ringan itu justru dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk membuat narasi negatif.

Langkah Tegas: Lapor Polisi

Merasa dirugikan atas penyebaran informasi yang tidak benar dan bersifat menghina, Hendrik memutuskan untuk tidak tinggal diam. Ia telah melaporkan sejumlah akun media sosial ke Polres Cimahi atas dugaan penyebaran video tanpa izin dan pencemaran nama baik.

“Saya hanya ingin mencari keadilan. Saya dirugikan secara materi dan immateri. Program ini butuh dukungan, bukan dihujat dengan informasi keliru,” tegasnya.

Hendrik juga berencana melanjutkan laporan ke Polda Jawa Barat pada 26 Maret 2026 untuk memperkuat dugaan pelanggaran terkait Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Fokus Utama: Keberlanjutan MBG untuk Anak Indonesia

Di tengah pusaran polemik, Hendrik menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini bukanlah pada perdebatan di media sosial, melainkan menjaga keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis.

“Saya khawatir isu ini bisa merusak citra program. Padahal, tujuan MBG mulia, yaitu meningkatkan gizi anak-anak Indonesia. Saya hanya ingin anak-anak di sini tetap mendapatkan makanan bergizi setiap hari,” pungkasnya. ***

 

DISCLAIMER :Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia di publik dan pernyataan resmi dari pihak terkait.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG