Solar Aman! Indonesia Stop Impor, Tapi Bensin dan LPG Masih Andalkan Luar

Solar Aman! Indonesia Stop Impor, Tapi Bensin dan LPG Masih Andalkan Luar

Kilang Balikpapan 360 Ribu Barel, Solar RI Tak Lagi Impor dari Luar

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Di tengah memanasnya krisis energi global akibat konflik Timur Tengah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membawa kabar melegakan. Indonesia resmi menghentikan impor solar sejak awal 2026!

“Kami harus meyakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita insyaallah tidak lagi melakukan impor, jadi clear (aman),” katanya dalam konferensi pers di Colomadu, disiarkan daring, Kamis (26/3/2026), seperti dikutip liputan6.com

Kilang Balikpapan Jadi Tulang Punggung

Pencapaian bersejarah ini tak lepas dari beroperasinya penuh proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan milik PT Pertamina. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah meresmikan peningkatan kapasitas kilang tersebut hingga mencapai 360.000 barel per hari—terbesar di Indonesia!

Imbasnya, pemerintah tak lagi menerbitkan izin impor solar. Kebijakan ini juga menjangkau SPBU swasta yang sebelumnya masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Kini, mereka wajib membeli dari Pertamina.

Tapi, Bensin dan LPG Masih ‘Tergantung

Meski solar sudah mandiri, realitanya Indonesia masih menghadapi tantangan di sektor BBM lain. Untuk bensin, Tanah Air masih mengandalkan impor sebesar 50 persen. Sisanya baru bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Kemudian, LPG kita juga masih impor kurang lebih sekitar 70 persen dari total kebutuhan Indonesia,” ungkap Bahlil jujur.

Pemerintah pun tengah gencar mencari alternatif sumber minyak mentah dari berbagai negara. Opsi yang tengah dikaji antara lain Angola, Brasil, Amerika Serikat, hingga Rusia.

Krisis Global Mengintai

Langkah Indonesia mengamankan pasokan solar terbilang tepat waktu. Krisis energi global kini tengah memuncak akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Ketegangan di Teluk Persia meningkat drastis sejak serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu yang dilaporkan menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Yang paling mengkhawatirkan, Teheran disebut-sebut menguasai Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang menjadi nadi distribusi minyak dunia ke Asia.

Imbauan untuk Masyarakat

Meski ketergantungan impor LPG masih tinggi, Bahlil menegaskan kondisi energi nasional tetap stabil. Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak panik.

“Nggak usah ada rasa panic buying, nggak perlu ada. Pakailah dengan secukupnya,” pesan Bahlil.

Dengan kilang Balikpapan yang sudah beroperasi penuh, setidaknya Indonesia punya satu beban yang lebih ringan di tengah badai krisis energi global yang melanda.’***

 

DISCLAIMER:Berita ini disusun berdasarkan informasi resmi dari Kementerian ESDM dan sumber terpercaya per 26 Maret 2026. Perkembangan situasi krisis global dan konflik Timur Tengah dapat berubah sewaktu-waktu

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG