Kilang Balikpapan 360 Ribu Barel, Solar RI Tak Lagi Impor dari Luar
HARIAN.NEWS, JAKARTA – Di tengah memanasnya krisis energi global akibat konflik Timur Tengah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membawa kabar melegakan. Indonesia resmi menghentikan impor solar sejak awal 2026!
Baca Juga : Imbauan Bahlil Lahadalia Soal Hemat LPG Diguyur Kritikan
“Kami harus meyakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita insyaallah tidak lagi melakukan impor, jadi clear (aman),” katanya dalam konferensi pers di Colomadu, disiarkan daring, Kamis (26/3/2026), seperti dikutip liputan6.com
Kilang Balikpapan Jadi Tulang Punggung
Pencapaian bersejarah ini tak lepas dari beroperasinya penuh proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan milik PT Pertamina. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah meresmikan peningkatan kapasitas kilang tersebut hingga mencapai 360.000 barel per hari—terbesar di Indonesia!
Baca Juga : Pemerintah Resmi Terapkan WFH Setiap Jumat Mulai 1 April 2026
Imbasnya, pemerintah tak lagi menerbitkan izin impor solar. Kebijakan ini juga menjangkau SPBU swasta yang sebelumnya masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Kini, mereka wajib membeli dari Pertamina.
Tapi, Bensin dan LPG Masih ‘Tergantung
Meski solar sudah mandiri, realitanya Indonesia masih menghadapi tantangan di sektor BBM lain. Untuk bensin, Tanah Air masih mengandalkan impor sebesar 50 persen. Sisanya baru bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Baca Juga : Warga Keluhkan Kelangkaan BBM di Bontotiro Bulukumba, Sejumlah Penjual Kehabisan Stok
“Kemudian, LPG kita juga masih impor kurang lebih sekitar 70 persen dari total kebutuhan Indonesia,” ungkap Bahlil jujur.
Pemerintah pun tengah gencar mencari alternatif sumber minyak mentah dari berbagai negara. Opsi yang tengah dikaji antara lain Angola, Brasil, Amerika Serikat, hingga Rusia.
Krisis Global Mengintai
Baca Juga : Kreatif! Warga Bontoala Berhasil Sulap Sampah Plastik Jadi Solar dan Bensin
Langkah Indonesia mengamankan pasokan solar terbilang tepat waktu. Krisis energi global kini tengah memuncak akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Ketegangan di Teluk Persia meningkat drastis sejak serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu yang dilaporkan menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
