Tidak Apa-apa Kalah, yang Penting Ingat Pulang

Tidak Apa-apa Kalah, yang Penting Ingat Pulang

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Bagi pecinta sepak bola, Piala Dunia bukan hanya turnamen. Ia adalah hiburan bagi seluruh dunia yang selalu dinanti setiap empat tahun sekali.

Batas negara seolah menghilang, tetapi semangat membela negara idola justru hadir di mana-mana. Di warung kopi, di kafe, di pos ronda, di ruang keluarga, hingga nonton bareng di lapangan terbuka, semua larut dalam euforia yang sama.

Ada yang rela begadang, ada yang menyusun prediksi, ada yang saling berdebat, bahkan ada pula yang mempertaruhkan uang demi tim favoritnya.

Perbincangan tentang sepak bola menjadi topik hangat di setiap komunitas. Ketika gol tercipta, teriakan “goooal!” menggema, dan status media sosial pun seketika dipenuhi luapan kegembiraan pendukung tim kesayangan.

Begitulah sepak bola. Mampu menyatukan jutaan manusia dalam satu rasa, meski hanya selama sembilan puluh menit.

Namun, di balik gegap gempita itu, Piala Dunia juga selalu melahirkan dua kubu, yang berpesta dan yang berduka.

Anehnya, yang kalah sering pulang dengan kepala tertunduk, seolah hidup ikut selesai bersama peluit akhir. Padahal sepak bola mengajarkan satu hal sederhana, semua yang datang ke lapangan, pasti akan pulang juga.

Kehidupan sendiri adalah satu paket tanpa sekat. Menang dan kalah, senang dan susah, hidup dan mati, semuanya tentang hidup sepaket tidak bisa dipisahkan.

Tidak ada kemenangan yang abadi, sebagaimana tidak ada kesedihan yang berlangsung selamanya. Siang dan malam saling melengkapi, begitu pula suka dan duka yang membentuk manusia menjadi utuh.

Bergembira secukupnya saat menang. Bersedih juga sewajarnya saat kalah. Jangan sampai kehilangan harapan. Sebab hidup tidak berhenti hanya karena satu hasil pertandingan, sebagaimana hidup juga tidak selesai hanya karena satu keberhasilan.

Kita rela begadang demi pertandingan yang hanya berlangsung sembilan puluh menit, tetapi sering menunda panggilan yang menentukan kehidupan selamanya. Kita hafal jadwal final, tetapi lupa bahwa hidup pun memiliki peluit akhir.

Kekalahan dalam sepak bola hanyalah kehilangan piala. Namun kekalahan terbesar adalah ketika seseorang memenangkan dunia, tetapi lupa urusan pencipta.

Yang lebih layak dikenang bukanlah siapa juara dan siapa yang tersingkir, melainkan, tidak apa-apa kalah, yang penting ingat pulang.
Kembali kepada hati yang rendah, kepada keluarga yang menunggu, kepada orang tua yang mendoakan, tempat semua perjalanan bermuara.

Bersoraklah ketika tim kesayangan mencetak gol. Rayakan kemenangan, dan terimalah kekalahan dengan lapang dada. Sebab sepak bola adalah hiburan, bukan ukuran harga diri. Ia adalah permainan yang mengajarkan sportivitas, sementara kehidupan mengajarkan kebijaksanaan.

Trofi akan berpindah tangan, rekor akan dipecahkan, juara akan berganti, tetapi setiap manusia tetap akan menghadapi pertandingan yang sama, perjalanan pulang menuju di kedalaman jiwa.***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)