HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Bagi pecinta sepak bola, Piala Dunia bukan hanya turnamen. Ia adalah hiburan bagi seluruh dunia yang selalu dinanti setiap empat tahun sekali.
Batas negara seolah menghilang, tetapi semangat membela negara idola justru hadir di mana-mana. Di warung kopi, di kafe, di pos ronda, di ruang keluarga, hingga nonton bareng di lapangan terbuka, semua larut dalam euforia yang sama.
Baca Juga : Messi dengan Mbappe Masih Bersaing Rebutan Sepatu Emas
Ada yang rela begadang, ada yang menyusun prediksi, ada yang saling berdebat, bahkan ada pula yang mempertaruhkan uang demi tim favoritnya.
Perbincangan tentang sepak bola menjadi topik hangat di setiap komunitas. Ketika gol tercipta, teriakan “goooal!” menggema, dan status media sosial pun seketika dipenuhi luapan kegembiraan pendukung tim kesayangan.
Begitulah sepak bola. Mampu menyatukan jutaan manusia dalam satu rasa, meski hanya selama sembilan puluh menit.
Baca Juga : Messi Bantah Tudingan Argentina Anak Emas Piala Dunia 2026
Namun, di balik gegap gempita itu, Piala Dunia juga selalu melahirkan dua kubu, yang berpesta dan yang berduka.
Anehnya, yang kalah sering pulang dengan kepala tertunduk, seolah hidup ikut selesai bersama peluit akhir. Padahal sepak bola mengajarkan satu hal sederhana, semua yang datang ke lapangan, pasti akan pulang juga.
Kehidupan sendiri adalah satu paket tanpa sekat. Menang dan kalah, senang dan susah, hidup dan mati, semuanya tentang hidup sepaket tidak bisa dipisahkan.
Baca Juga : Argentina ke Final Piala Dunia 2026, Messi Pecahkan Rekor Assist
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
