Timnas Iran Bertolak ke Meksiko, 14 Staf Masih Tertahan Masalah Visa AS

HARIAN.NEWS,ANKARA – Drama mengiringi langkah Timnas Iran menuju Piala Dunia 2026. Sabtu (6/6), skuad Persia akhirnya bertolak dari Turki menuju Meksiko, namun dengan catatan pahit: 14 anggota staf kepelatihan dan pejabat federasi masih tertahan karena visa Amerika Serikat (AS) mereka belum juga disetujui.
Berdasarkan laporan Associated Press, Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Iran Hedayat Mombeini dan Wakil Presiden Mehdi Mohammad Nabi termasuk dalam daftar nama yang belum mengantongi izin masuk ke Negeri Paman Sam. Masalah ini bukan sekadar hambatan administratif biasa, melainkan polemik yang membayangi seluruh persiapan Iran untuk tiga laga fase grup di Los Angeles dan Seattle.
Dampak penolakan visa ini cukup serius. Iran terpaksa memindahkan basis pelatihan mereka dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko—kota yang berbatasan langsung dengan California. Keputusan ini diambil setelah proses visa yang berlarut-larut tanpa kepastian.
Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) tidak tinggal diam. Dalam pernyataan resmi, mereka melayangkan tuduhan keras kepada pemerintah AS. “Tindakan tersebut secara efektif telah merampas kesempatan bagi tim nasional Iran untuk mendapatkan level permainan yang setara dan sebuah kompetisi yang bebas dari diskriminasi,” tegas FFIRI.
Lebih jauh, federasi menuduh AS melakukan tindakan balas dendam dengan menolak visa atas alasan yang dianggap palsu. Iran menegaskan akan membawa kasus ini ke FIFA, otoritas sepak bola dunia, sebagai bentuk protes atas perlakuan yang mereka anggap tidak adil.
Di tengah hiruk-pikuk drama visa para oficial, satu kabar baik memastikan partisipasi Iran di turnamen akbar ini: seluruh pemain dan pelatih inti telah mengantongi visa dan ikut bertolak menggunakan jet pribadi dari Antalya, Turki.
Ini berarti, meski diwarnai kendala administratif, Timnas Iran tetap bisa berkompetisi di Piala Dunia 2026. Namun, absennya 14 staf penting tentu menjadi pukulan bagi persiapan taktis dan manajerial tim.
Polemik visa ini bukan insiden terpisah. Tensi politik antara Iran dan AS turut mewarnai persiapan turnamen. Pada Maret lalu, Presiden Donald Trump sempat meremehkan partisipasi Iran dengan alasan keamanan. Pernyataan itu langsung direspons tegas oleh Timnas Iran: tidak ada satu pihak pun yang bisa mengeluarkan mereka dari kompetisi.
Situasi ini mencerminkan kompleksitas hubungan geopolitik yang merembes ke dunia olahraga. Piala Dunia 2026, yang seharusnya menjadi pesta sepak bola global, justru diwarnai ketegangan diplomatik yang belum kunjung mereda.
Kini, Timnas Iran berada di Meksiko, mempersiapkan diri di Tijuana. Dengan keterbatasan staf, mereka dituntut tetap tampil optimal di fase grup. Tekanan tidak hanya datang dari lawan di lapangan hijau, tetapi juga dari situasi politik yang melingkupi keberangkatan mereka.
Dunia sepak bola internasional kini menanti: akankah FIFA turun tangan menyelesaikan sengketa visa ini? Atau Iran harus bertarung dengan sumber daya yang terbatas di panggung terbesar sepak bola dunia?
Satu hal yang pasti: drama di balik layar Piala Dunia 2026 telah dimulai, dan Iran berada di pusat badai tersebut. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG