1 Muharram, Ini 6 Tradisi Unik di Indonesia yang Memukau

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Tahun Baru Islam atau 1 Muharram bukan sekadar pergantian kalender bagi umat Muslim di Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus kaya akan keragaman suku dan budaya, peringatan tahun hijriah ini dirayakan dalam berbagai ritual unik yang memadukan spiritualitas dengan adat lokal.

Dari Solo hingga Pariaman, berikut 6 tradisi menyambut bulan Muharram (atau bulan Suro) yang sarat makna dan masih lestari hingga 2026.

1. Kirab Kebo Bule – Solo
Di Keraton Kasunanan Surakarta, malam 1 Suro dimeriahkan dengan kirab pusaka. Yang paling ikonik? Kehadiran Kebo Bule Kyai Slamet, kerbau albino yang dianggap hewan sakral. Ribuan warga memadati rute kirab demi ngalap berkah (mencari berkah) dari sisa-sisa prosesi.

Kawanan Kebo Bule pada kirab malam 1 Suro di Solo. Ribuan warga ngalap berkah dengan berebut sisa sesaji || (foto_zeaa@pinterest)

2. Mubeng Beteng – Yogyakarta
Bergeser ke Keraton Yogyakarta, tradisi Mubeng Beteng mengajak ribuan abdi dalem dan masyarakat berjalan kaki mengitari benteng keraton. Yang unik: tapa bisu – tidak boleh mengucapkan sepatah kata pun. Ritual ini simbol refleksi diri, introspeksi dosa tahun lalu, dan doa hening untuk kedamaian tahun baru.

Mubeng Beteng: tradisi tapa bisu mengitari benteng Yogyakarta sebagai simbol introspeksi diri menyambut tahun baru Islam ||(foto/doc_man1bantul)

3. Upacara Tabuik – Pariaman, Sumatera Barat
Masyarakat pesisir Pariaman memperingati hari Asyura (bagian dari momentum Muharram) dengan Upacara Tabuik. Dua menara kayu tinggi yang disebut tabuik diarak dalam sebuah teatrikal memori sejarah. Puncaknya, menara tersebut dilarung ke laut sebagai simbol pembersihan diri dan pelepasan duka.

Upacara Tabuik di Pariaman. Menara kayu ini akan dilarung ke laut sebagai simbol pembersihan diri dan pelepasan duka || (doc_batiqahotelpalembang)

4. Bubur Suro – Jawa Barat, Tengah, Timur
Sisi kuliner tak ketinggalan. Masyarakat di sejumlah wilayah Jawa secara turun-temurun membuat Bubur Suro – bubur beras gurih yang disajikan dengan telur dadar iris, kacang-kacangan, dan perkedel. Uniknya, bubur ini tidak diperjualbelikan, melainkan dibagikan ke tetangga dan masjid sebagai bentuk sedekah bumi dan rasa syukur.

Bubur Suro – kuliner khas 1 Muharram yang tidak dijual, melainkan dibagikan sebagai sedekah dan ungkapan syukur || tangkaplayar_IG@surabaya_hotel_school)

5. Pawai Obor – Seluruh Indonesia
Inilah tradisi paling visual dan merakyat. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa berjalan beriringan mengitari pemukiman sambil membawa obor dan melantunkan selawat. Pawai Obor menjadi simbol penerangan spiritual dalam menyongsong lembaran baru tahun hijriah.

6. Ritual Wahyu Kliyu – Karanganyar, Jawa Tengah
Di Dusun Kendal, Jatipuro, Karanganyar, ada tradisi unik bernama Wahyu Kliyu. Warga berkumpul membawa kue apem dalam jumlah ribuan. Setelah didoakan bersama, apem-apem itu dilemparkan ke atas tikar jalaran. Nama “Wahyu Kliyu” berasal dari seruan “Hayyu Ya Qayyum” yang dilafalkan berulang sebagai permohonan anugerah dan keselamatan kepada Sang Pencipta.

Ritual Wahyu Kliyu di Karanganyar. Ribuan apem dilemparkan setelah didoakan, sebagai bentuk permohonan anugerah dan keselamatan ||(doc_karanganyarkab)

Dari sabang sampai merauke, 1 Muharram bukan hanya tentang pergantian angka tahun, tetapi juga warisan budaya yang hidup – sebuah refleksi bahwa iman dan tradisi bisa berjalan beriringan dengan indah. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG