Logo Harian.news
Senin, 15 Juni 2026 16:12

HARIAN BUDAYA

1 Muharram, Ini 6 Tradisi Unik di Indonesia yang Memukau

Editor:  Andi Awal Tjoheng
Pawai obor menjadi tradisi paling merakyat di malam 1 Muharram ||( foto_RistaAdams@pinterest)
Pawai obor menjadi tradisi paling merakyat di malam 1 Muharram ||( foto_RistaAdams@pinterest)

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Tahun Baru Islam atau 1 Muharram bukan sekadar pergantian kalender bagi umat Muslim di Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus kaya akan keragaman suku dan budaya, peringatan tahun hijriah ini dirayakan dalam berbagai ritual unik yang memadukan spiritualitas dengan adat lokal.

Dari Solo hingga Pariaman, berikut 6 tradisi menyambut bulan Muharram (atau bulan Suro) yang sarat makna dan masih lestari hingga 2026.

Baca Juga : Bernia Wisata: Umroh Aman & Nyaman di Musim Panas

1. Kirab Kebo Bule – Solo
Di Keraton Kasunanan Surakarta, malam 1 Suro dimeriahkan dengan kirab pusaka. Yang paling ikonik? Kehadiran Kebo Bule Kyai Slamet, kerbau albino yang dianggap hewan sakral. Ribuan warga memadati rute kirab demi ngalap berkah (mencari berkah) dari sisa-sisa prosesi.

Kawanan Kebo Bule pada kirab malam 1 Suro di Solo. Ribuan warga ngalap berkah dengan berebut sisa sesaji || (foto_zeaa@pinterest)

2. Mubeng Beteng – Yogyakarta
Bergeser ke Keraton Yogyakarta, tradisi Mubeng Beteng mengajak ribuan abdi dalem dan masyarakat berjalan kaki mengitari benteng keraton. Yang unik: tapa bisu – tidak boleh mengucapkan sepatah kata pun. Ritual ini simbol refleksi diri, introspeksi dosa tahun lalu, dan doa hening untuk kedamaian tahun baru.

Baca Juga : IKA Pertanian UMI Angkatan 87 Peringati Tahun Baru Islam 1447 H

Mubeng Beteng: tradisi tapa bisu mengitari benteng Yogyakarta sebagai simbol introspeksi diri menyambut tahun baru Islam ||(foto/doc_man1bantul)

3. Upacara Tabuik – Pariaman, Sumatera Barat
Masyarakat pesisir Pariaman memperingati hari Asyura (bagian dari momentum Muharram) dengan Upacara Tabuik. Dua menara kayu tinggi yang disebut tabuik diarak dalam sebuah teatrikal memori sejarah. Puncaknya, menara tersebut dilarung ke laut sebagai simbol pembersihan diri dan pelepasan duka.

Upacara Tabuik di Pariaman. Menara kayu ini akan dilarung ke laut sebagai simbol pembersihan diri dan pelepasan duka || (doc_batiqahotelpalembang)

Baca Juga : KPPG Sulsel Bergerak! Aksi Sosial 1 Muharram

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG

Follow Social Media Kami

Komentar Anda
Terkini
Populer