Adidas Trionda, Bola PD 2026 dengan 4 Panel dan Chip Canggih

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Dia bukan pesepak bola, bukan pula pelatih. Tapi John Eric Goff memegang peran krusial dalam Piala Dunia 2026. Sebagai pakar fisika olahraga, profesor Amerika Serikat ini adalah otak di balik pengujian Adidas Trionda, bola resmi turnamen akbar tersebut.

Dalam wawancara dengan BBC Science Focus, Goff mengungkap filosofi menarik: mengapa setiap Piala Dunia harus ada bola baru, padahal tidak ada komplain berarti sejak Jabulani pada 2010?

“Idenya sama seperti misi ke Bulan. Kita melakukannya karena kita bisa. Karena itu ada,” ujar Goff, menjelaskan semangat eksplorasi sains yang mendorong inovasi berkelanjutan.

Trauma Jabulani: Ketika Bola Terlalu Sempurna

Sejarah mencatat, Jabulani di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan menjadi mimpi buruk. Bola dengan 8 panel itu terlalu halus, terlalu bulat, dan pergerakannya di udara sangat liar. Para kiper dan pemain mengeluh: bola itu tidak bisa diprediksi.

Masalahnya terletak pada drag crisis—titik di mana hambatan udara berubah drastis. Jabulani mengalami drag crisis pada kecepatan 79-97 km/jam, tepat di kisaran kecepatan tendangan nyata. Akibatnya, perubahan kecil dalam kecepatan atau orientasi bola bisa menggeser bola dari satu rezim aerodinamika ke rezim lain, membuatnya “belok” tak terduga.

Sejak itu, Adidas belajar. Brazuca (2014), Telstar 18 (2018), dan Al-Rihla (2022) semuanya stabil. Tidak ada protes berarti. Secara teknis, mereka sudah “sempurna”.

Lalu, mengapa harus ada bola baru lagi?

Revolusi 4 Panel: Matematika Tetrahedron

Jawabannya ada pada Trionda. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, bola resmi turnamen hanya memiliki 4 panel.

Ini bukan angka sembarangan. Trionda didasarkan pada tetrahedron—bangun ruang platonis yang terdiri dari empat segitiga. Panel-panel tersebut memiliki tepi melengkung yang menutup permukaan bola dengan presisi tinggi.

Namun, ada risiko: semakin sedikit panel, semakin sedikit jahitan, semakin halus permukaan. Dan kehalusan berlebihan adalah resep bencana aerodinamika—seperti yang terjadi pada Jabulani.

Adidas tahu ini. Maka mereka mengambil pendekatan berbeda.

Rekayasa Permukaan: Alur yang Disengaja

Berdasarkan pengukuran pemindai laser beresolusi tinggi, peneliti menemukan bahwa jahitan Trionda lebih panjang, lebih dalam, dan lebih lebar dibanding Jabulani.

Setiap panel Trionda memiliki tiga alur dalam yang menonjol:

Alur terlebar: 9,04 mm lebar, 1,29 mm dalam

Alur menengah: 6,08 mm lebar, 0,85 mm dalam

Alur tersempit: 3,26 mm lebar, 0,48 mm dalam

Alur-alur ini, bersama mikrotekstur yang diukir pada permukaan, dirancang untuk menciptakan turbulensi simetris di sekitar bola. Tujuannya: memastikan bola bergerak dalam lintasan yang dapat diprediksi.

Hasil Uji Terowongan Angin: Drag Crisis di 43 km/jam

Goff, bersama koleganya dari Universitas Tsukuba (Jepang) dan Seoul Women’s University (Korea), melakukan serangkaian uji terowongan angin. Bola dipasang pada batang baja, dan angin dialirkan pada kecepatan 7-35 meter per detik—sesuai kecepatan bola dalam pertandingan nyata.

Hasilnya mengejutkan: Trionda mencapai drag crisis pada kecepatan sekitar 43 km/jam.

Ini jauh lebih rendah dibanding:

Al-Rihla, Telstar 18, Brazuca: 50-65 km/jam

Jabulani: 79-97 km/jam

Adidas Trionda  ||(IG@hinchastoree)

Artinya, pada kecepatan tendangan sudut dan tendangan bebas, Trionda sudah berada di rezim turbulen yang stabil. Perilakunya lebih bisa diprediksi. Tidak ada lagi “efek Jabulani” yang menakutkan.

Namun, ada konsekuensi: koefisien drag Trionda di kecepatan tinggi sedikit lebih besar. Goff memperkirakan, pada tendangan jarak jauh, jangkauannya bisa beberapa meter lebih pendek.

“Penjaga gawang dan pemain yang biasa menendang dari jarak jauh mungkin merasakan perbedaan,” kata Goff. “Tapi sebagian besar tendangan disertai putaran bola, yang menghasilkan efek Magnus untuk mengimbangi hambatan lebih besar.”

Revolusi Digital: Chip IMU 500 Hz

Di luar rekayasa aerodinamika, Trionda menyimpan terobosan teknologi yang belum pernah ada: chip IMU (Inertial Measurement Unit) berkecepatan 500 Hz.

Chip ini, dikembangkan Adidas bersama Kinexon (perusahaan teknologi Jerman), dipasang di dalam lapisan khusus di salah satu dari empat panel bola. Tiga panel lainnya dilengkapi penyeimbang untuk memastikan stabilitas penerbangan.

Ini perubahan arsitektur signifikan. Pada Al-Rihla (2022), sensor ditempatkan di tengah bola melalui sistem suspensi. Di Trionda, sensor berada di dalam panel—lebih terintegrasi, lebih presisi.

Sensor ini bekerja bersama kamera dan sistem pelacak di seluruh stadion. Data dikirim ke sistem VAR secara real-time untuk dua tujuan utama:

Keputusan Offside: Mengukur pergerakan bola 500 kali per detik untuk menghitung momen tepat saat bola ditendang

Identifikasi Sentuhan: Mendeteksi momen tepat saat bola disentuh pemain untuk keputusan handball dan pelanggaran

Untuk memastikan sensor berfungsi optimal, setiap bola harus diisi daya secara nirkabel selama 90 menit sebelum pertandingan. Satu kali pengisian penuh memberikan cadangan daya hingga 6 jam.

Pengujian Ekstrem: 100 Bola oleh Robot Penendang

Hannes Schaefke, pemimpin inovasi sepak bola Adidas, menggambarkan betapa sulitnya memindahkan posisi sensor tanpa memengaruhi performa bola.

Adidas memulai dengan uji acak: menyelipkan bola ber-chip ke sesi latihan klub tanpa memberitahu pemain. Kemudian, para pemain diminta mengidentifikasi mana bola yang ada chip-nya.

“Kesimpulannya: tidak ada pemain yang mampu mendeteksi atau membedakannya. Ini luar biasa,” ujar Schaefke kepada Gulf News.

Adidas menyebut Trionda sebagai bola paling banyak diuji dalam sejarah perusahaan. Proses pengujian mencakup:

Robot penendang yang menendang 100 bola dengan kecepatan spesifik

Uji laboratorium komprehensif

Pengujian lapangan langsung di enam kota tuan rumah

Bukti di Lapangan: Gol Jarak Jauh Ayari

Hingga artikel ini ditulis, belum ada komplain berarti tentang Trionda. Ini indikasi kuat bahwa bola ini bekerja sesuai desain.

Kekurangan teoritis—jarak tempuh yang sedikit lebih pendek—tidak terasa signifikan dalam pertandingan nyata. Bukti? Sejumlah gol jarak jauh sudah dicetak, termasuk dua gol Yasin Ayari untuk Swedia ke gawang Tunisia.

Artinya, Trionda bekerja dengan baik. Ia bukan produk sempurna—tidak ada yang sempurna. Tapi ketidaksempurnaan itulah yang akan mendorong pengembangan bola yang lebih baru lagi di masa depan.

Seperti kata Goff: “Kita melakukannya karena kita bisa. Karena itu ada.” ***

( berbagai sumber)

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG