Namun, ada risiko: semakin sedikit panel, semakin sedikit jahitan, semakin halus permukaan. Dan kehalusan berlebihan adalah resep bencana aerodinamika—seperti yang terjadi pada Jabulani.
Adidas tahu ini. Maka mereka mengambil pendekatan berbeda.
Baca Juga : Mimpi Buruk Ekuador, Ditahan Imbang Curacao 0-0
Rekayasa Permukaan: Alur yang Disengaja
Berdasarkan pengukuran pemindai laser beresolusi tinggi, peneliti menemukan bahwa jahitan Trionda lebih panjang, lebih dalam, dan lebih lebar dibanding Jabulani.
Setiap panel Trionda memiliki tiga alur dalam yang menonjol:
Baca Juga : Dua Gol Dua Laga! Saibari Ukir Rekor Baru Maroko
Alur terlebar: 9,04 mm lebar, 1,29 mm dalam
Alur menengah: 6,08 mm lebar, 0,85 mm dalam
Alur tersempit: 3,26 mm lebar, 0,48 mm dalam
Baca Juga : Dramatis! Jerman Bangkit, Taklukkan Pantai Gading 2-1
Alur-alur ini, bersama mikrotekstur yang diukir pada permukaan, dirancang untuk menciptakan turbulensi simetris di sekitar bola. Tujuannya: memastikan bola bergerak dalam lintasan yang dapat diprediksi.
Hasil Uji Terowongan Angin: Drag Crisis di 43 km/jam
Goff, bersama koleganya dari Universitas Tsukuba (Jepang) dan Seoul Women’s University (Korea), melakukan serangkaian uji terowongan angin. Bola dipasang pada batang baja, dan angin dialirkan pada kecepatan 7-35 meter per detik—sesuai kecepatan bola dalam pertandingan nyata.
Baca Juga : Belanda Pesta 5-1 atas Swedia, Kokoh di Puncak Grup F
Hasilnya mengejutkan: Trionda mencapai drag crisis pada kecepatan sekitar 43 km/jam.
Ini jauh lebih rendah dibanding:
Al-Rihla, Telstar 18, Brazuca: 50-65 km/jam
Jabulani: 79-97 km/jam

Adidas Trionda ||(IG@hinchastoree)
Artinya, pada kecepatan tendangan sudut dan tendangan bebas, Trionda sudah berada di rezim turbulen yang stabil. Perilakunya lebih bisa diprediksi. Tidak ada lagi “efek Jabulani” yang menakutkan.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
