Namun, ada risiko: semakin sedikit panel, semakin sedikit jahitan, semakin halus permukaan. Dan kehalusan berlebihan adalah resep bencana aerodinamika—seperti yang terjadi pada Jabulani.
Adidas tahu ini. Maka mereka mengambil pendekatan berbeda.
Baca Juga : Piala Dunia dan Bangsa Penonton
Rekayasa Permukaan: Alur yang Disengaja
Berdasarkan pengukuran pemindai laser beresolusi tinggi, peneliti menemukan bahwa jahitan Trionda lebih panjang, lebih dalam, dan lebih lebar dibanding Jabulani.
Setiap panel Trionda memiliki tiga alur dalam yang menonjol:
Baca Juga : Ferran Torres Jadi Tumpuan Spanyol di Piala Dunia 2026, Ini Profilnya
Alur terlebar: 9,04 mm lebar, 1,29 mm dalam
Alur menengah: 6,08 mm lebar, 0,85 mm dalam
Alur tersempit: 3,26 mm lebar, 0,48 mm dalam
Baca Juga : Spanyol Angkat Trofi Piala Dunia 2026 Usai Tekuk Argentina 1-0
Alur-alur ini, bersama mikrotekstur yang diukir pada permukaan, dirancang untuk menciptakan turbulensi simetris di sekitar bola. Tujuannya: memastikan bola bergerak dalam lintasan yang dapat diprediksi.
Hasil Uji Terowongan Angin: Drag Crisis di 43 km/jam
Goff, bersama koleganya dari Universitas Tsukuba (Jepang) dan Seoul Women’s University (Korea), melakukan serangkaian uji terowongan angin. Bola dipasang pada batang baja, dan angin dialirkan pada kecepatan 7-35 meter per detik—sesuai kecepatan bola dalam pertandingan nyata.
Baca Juga : Cerita Foto Ikonik Messi Memandikan Yamal, Dua Generasi yang Bertemu di Final Piala Dunia 2026
Hasilnya mengejutkan: Trionda mencapai drag crisis pada kecepatan sekitar 43 km/jam.
Ini jauh lebih rendah dibanding:
Al-Rihla, Telstar 18, Brazuca: 50-65 km/jam
Jabulani: 79-97 km/jam

Adidas Trionda ||(IG@hinchastoree)
Artinya, pada kecepatan tendangan sudut dan tendangan bebas, Trionda sudah berada di rezim turbulen yang stabil. Perilakunya lebih bisa diprediksi. Tidak ada lagi “efek Jabulani” yang menakutkan.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
