Asal Usul Julukan Singa Atlas Timnas Maroko di Piala Dunia 2026

Asal Usul Julukan Singa Atlas Timnas Maroko di Piala Dunia 2026

HARIAN.NEWS, JAKARTA — Kemenangan dramatis Timnas Maroko atas Belanda melalui adu penalti 3-2 di Stadion Monterrey, Meksiko, Selasa (30/6/2026), tidak hanya mengantar mereka ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Laga panas tersebut juga menjadi panggah pembuktian bagi skuad berjuluk Atlas Lions atau Singa Atlas.

Melaju ke fase gugur untuk menantang Kanada pada 4 Juli mendatang, rasa penasaran publik global pun mencuat: Apa sebenarnya makna di balik julukan Singa Atlas yang melekat kuat pada tim asal Afrika Utara ini?

Makna Filosofis di Balik Singa Atlas

Secara ilmiah, Singa Atlas atau Panthera leo leo adalah subspesies kucing besar yang mendiami kawasan pegunungan dan hutan Afrika Utara, khususnya di Pegunungan Atlas hingga pesisir Mediterania Maroko, Aljazair, dan Tunisia.

Julukan ini bukan sekadar frasa pencitraan. Bagi masyarakat Berber, Singa Atlas dihormati sebagai simbol otoritas kerajaan dan perlindungan.

Sifat garang, kuat, dan pemberani inilah yang coba ditranslasikan ke dalam permainan timnas Maroko di atas lapangan hijau, layaknya ketika mereka menahan gempuran Belanda hingga titik darah adu penalti.

Fakta Ilmiah: Raja Hutan yang Punah

Di balik kebanggaan yang menggema di Piala Dunia 2026, tersimpan cerita kelam. Singa Atlas kini telah dinyatakan punah di alam liar.

Marrakech Camel Trips mencatat, satwa ini merupakan salah satu kucing besar terbesar di dunia. Singa jantan dewasa memiliki panjang tubuh 2,5 hingga 3 meter dengan bobot mencapai 150 hingga 250 kilogram.

Ciri khasnya yang paling mencolok adalah surai jantan yang sangat tebal dan gelap, dengan panjang bisa mencapai 8 hingga 22 sentimeter.

Secara genetika, spesies ini terpisah dari garis keturunan singa modern sekitar 70.000 tahun lalu akibat isolasi Gurun Sahara.

Tragedi Kepunahan yang Bertahap

Kepunahan Singa Atlas bukan terjadi semalam. Tekanan besar dimulai sejak era Kekaisaran Romawi, di mana ribuan singa ditangkap dan dibantai demi hiburan pertarungan gladiator.

Pada masa kolonialisme Eropa, perburuan liar oleh para bangsawan semakin menekan populasi hingga anjlok drastis.

Catatan sejarah menulis, keberadaan terakhir Singa Atlas di alam liar terdokumentasi pada 1942 di kawasan Tizi n’Tichka, Pegunungan Atlas Tinggi, Maroko. Pertengahan abad ke-20, spesies ini resmi dinyatakan punah di habitat aslinya, meski sempat ada laporan tak terverifikasi pada dekade 1960-an.

Dari Kandang Konservasi ke Lapangan Hijau

Meski punah di alam liar, sejumlah program konservasi internasional masih berjalan. Beberapa individu diduga masih bertahan di penangkaran, meski kemurnian genetiknya sudah tercampur dengan subspesies lain.

Pada 2025 lalu, fasilitas konservasi kebun binatang di Eropa berhasil mencatatkan kelahiran anak Singa Atlas sebagai bagian dari upaya pelestarian ex-situ. Maroko sendiri dikabarkan tengah mengkaji potensi reintroduksi di kawasan lindung tertentu.

Bagi rakyat Maroko, Singa Atlas bukan lagi sekadar fosil sejarah. Identitas nasional itu hidup kembali melalui sepak bola.

Setiap kali Achraf Hakimi dan kawan-kawan berlari mengejar bola di Piala Dunia 2026, mereka membawa Roh Singa Atlas: garang, tidak kenal kompromi, dan siap menerjang siapa pun.***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG