Ciri khasnya yang paling mencolok adalah surai jantan yang sangat tebal dan gelap, dengan panjang bisa mencapai 8 hingga 22 sentimeter.
Secara genetika, spesies ini terpisah dari garis keturunan singa modern sekitar 70.000 tahun lalu akibat isolasi Gurun Sahara.
Baca Juga : Adu Penalti, Maroko Tendang Belanda dari Piala Dunia
Tragedi Kepunahan yang Bertahap
Kepunahan Singa Atlas bukan terjadi semalam. Tekanan besar dimulai sejak era Kekaisaran Romawi, di mana ribuan singa ditangkap dan dibantai demi hiburan pertarungan gladiator.
Pada masa kolonialisme Eropa, perburuan liar oleh para bangsawan semakin menekan populasi hingga anjlok drastis.
Baca Juga : Brasil Lolos Dramatis ke 16 Besar, Jepang Tumbang Menit 90+6
Catatan sejarah menulis, keberadaan terakhir Singa Atlas di alam liar terdokumentasi pada 1942 di kawasan Tizi n’Tichka, Pegunungan Atlas Tinggi, Maroko. Pertengahan abad ke-20, spesies ini resmi dinyatakan punah di habitat aslinya, meski sempat ada laporan tak terverifikasi pada dekade 1960-an.
Dari Kandang Konservasi ke Lapangan Hijau
Meski punah di alam liar, sejumlah program konservasi internasional masih berjalan. Beberapa individu diduga masih bertahan di penangkaran, meski kemurnian genetiknya sudah tercampur dengan subspesies lain.
Baca Juga : Kanada ke 16 Besar Piala Dunia 2026 Usai Tekuk Afrika Selatan
Pada 2025 lalu, fasilitas konservasi kebun binatang di Eropa berhasil mencatatkan kelahiran anak Singa Atlas sebagai bagian dari upaya pelestarian ex-situ. Maroko sendiri dikabarkan tengah mengkaji potensi reintroduksi di kawasan lindung tertentu.
Bagi rakyat Maroko, Singa Atlas bukan lagi sekadar fosil sejarah. Identitas nasional itu hidup kembali melalui sepak bola.
Setiap kali Achraf Hakimi dan kawan-kawan berlari mengejar bola di Piala Dunia 2026, mereka membawa Roh Singa Atlas: garang, tidak kenal kompromi, dan siap menerjang siapa pun.***
Baca Juga : Negara Kecil Ini Bikin Dunia Terkejut di Piala Dunia 2026
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
