Baik-Buruk Itu Paket, Bukan Pilihan!

Baik-Buruk Itu Paket, Bukan Pilihan!

HARIAN.NEWS,MAKASSAR – Sabtu malam Ngopi Bareng di Warkop DK10, suasana tetap hangat. Bukan cuma karena kopi, tapi juga obrolan yang selalu bikin kepala ikut “panas dingin”.

Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio kembali duduk di meja favorit. Seperti biasa, obrolan ringan berubah jadi bahan renungan.

“Di dunia ini memang serba dua,” buka Om Haria sambil menyeruput kopi.
“Ada baik, ada buruk. Ada terang, ada gelap.”

Deng Kio langsung menimpali,
“Iya, Om. Tapi orang sekarang sering bilang: ‘dia agak baik’, ‘dia sedikit nakal’.”

Mas Bro tersenyum tipis.
“Itu cuma bahasa halus saja. Biar tidak terlalu menyakitkan.”

“Loh, memangnya salah?” tanya Deng Kio.

Mas Bro meletakkan cangkirnya pelan.
“Masalahnya, baik dan buruk itu bukan setengah-setengah. Itu satu paket.”

Om Haria mengernyit.
“Maksudnya?”

“Orang disebut baik karena meninggalkan yang buruk. Sebaliknya, disebut buruk karena meninggalkan kebaikan,” jelas Mas Bro.

Deng Kio langsung nyeletuk,
“Jadi nggak bisa ya… yang baik jalan, yang buruk ikut jalan?”

Mas Bro menggeleng.
“Itu namanya bukan seimbang, tapi menipu diri sendiri.”

Om Haria tertawa kecil.
“Contohnya banyak itu. Rajin sedekah, tapi urusan lain… ya begitu deh.”

Belum sempat Deng Kio menjawab, tiba-tiba dari belakang terdengar suara khas:

“Jangan-jangan itu yang disebut ‘akuntansi dosa’… ditutup pakai kebaikan!”

Semua menoleh.
Daeng La’lang lagi-lagi muncul dengan komentar tak terduga.

Meja langsung pecah dengan tawa.

“Serius ini,” lanjut Daeng La’lang santai.
“Kadang orang merasa sudah baik karena satu hal, lalu merasa bebas melakukan yang lain.”

Deng Kio mengangguk pelan.
“Padahal itu bukan menutup, tapi numpuk.”

Om Haria ikut menimpali,
“Makanya jangan cuma lihat luarnya saja. Kadang kelihatannya baik, tapi dalamnya belum tentu.”

Mas Bro menghela napas ringan.
“Itulah pentingnya konsisten. Bukan cuma kelihatan baik, tapi benar-benar menjalankan yang baik.”

Deng Kio kembali menyindir halus,
“Jangan sampai kita ini baik kalau dilihat orang, tapi beda kalau tidak ada yang lihat.”

Daeng La’lang langsung menutup dengan gaya santainya,
“Kalau begitu, jangan cuma bersih di depan… tapi juga di belakang layar!”

Semua kembali tertawa.

Tapi kali ini, ada jeda yang terasa berbeda.

Seolah masing-masing sedang berkaca.

Om Haria akhirnya berkata pelan,
“Yang susah itu bukan jadi baik… tapi tetap baik.”

Mas Bro mengangguk.
“Dan yang lebih susah lagi… meninggalkan yang buruk sepenuhnya.”

Deng Kio menutup dengan senyum tipis,
“Berarti hidup ini bukan soal terlihat baik… tapi benar-benar memilih yang baik.”

Kopi tinggal ampas.
Obrolan selesai.
Tapi pesannya… masih melekat. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG