Berpikir Teduh dan Visioner

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Manusia memang tempatnya salah, khilaf dan berbagai kekurangan. Demikian pula dengan kesedihan dan kebahagiaan akan berlalu, pun Ramadan.
Semua aktivitas ibadah maksimal telah terlaksana dengan penuh suka cita. Seluruh umat akan kembali pada rutinitas.
Bekerja dan melanjutkan kesibukan sebagai pencari nafkah untuk proses kehidupan kedepan.
Ada pelajaran tersisa yang sangat relevan dimaknai untuk semua, baik masyarakat kecil maupun petinggi sekelas presiden.
Bahwa ada hal remeh temeh tidak perlu dijadikan curhatan di media. “Terusik dengan komentar RG yang mengatakan presiden ke 8 ba**ngan t**ol”.
Semestinya sebagai harapan rakyat, sebagai orang yang dipercaya membawa negeri untuk dikelola, dipandang sebagai orang kuat dan visioner tidak dengan mudah bereaksi bahkan memperadilkan.
Cukup diselesaikan oleh humas kepresidenan. “Clear”.
Sudah sewajarnya sebagai manusia, seorang pemimpin sekali dua kali keceplosan di media, hanya yang perlu dipahami itu semua ada dampak baik dan dampak buruknya.
Akan bermanfaat jika dengan berbagi perasaan dan pikiran dapat membangun hubungan lebih dekat dan kepercayaan lebih. Dapat membantu pemimpin mengurangi rasa stres dan kecemasan.
Dampak negatifnya, hal ini mengurangi kewibawaan serta membuat rakyat meragukan kemampuan dan kepemimpinannya.
Keprofesionalan juga akan dipertanyakan. Dan dikhawatirkan akan mengganggu fokus.
Berpikir teduh dan visioner akan memberikan energi positif bagi bangsa. Bagaimana menjadi lebih tenang, bijak dan jernih, memfokuskan pikiran dan menghilangkan gangguan.
Memproses informasi dan membuat keputusan membutuhkan kesabaran yang terlatih agar adil, berkarakter dan lebih komprehensif dengan mempertimbangkan semua aspek.
Kemampuan melihat sudut pandang yang berbeda adalah sebuah keharusan dan dibutuhkan jam terbang. Inilah kunci agar visi menghapus berbagai persoalan bangsa bisa teratasi sedikit demi sedikit.
Tujuan membuat keputusan strategis dapat tercapai. Tidak terprovokasi oleh kalimat para pembenci atau yang mengtasnamakan pemerhati dan akademisi.
Karena tidak hanya memberi teladan, namun juga sebagai bentuk pertanggungjawaban diri kepada rakyat atas kepercayaan yang diberikan.
Ibarat kata semua yang diperlihatkan, diucapkan merupakan sebuah gestur politik sehingga tetap menjadikan tempat bersandar rakyat yang tak terbantahkan. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)