Di Era Digital, Kita Mencari Kebenaran atau Pembenaran?

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Di tengah derasnya arus informasi, kita hidup dalam keadaan yang serba cepat, cepat melihat, cepat percaya, cepat bereaksi, bahkan cepat menghakimi.
Sebuah video pendek dapat memancing kemarahan, sebuah unggahan dapat membentuk kesimpulan, dan ribuan komentar yang sependapat sering membuat kita merasa semakin yakin.
Namun, di tengah semua kecepatan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin perlu diajukan kepada diri sendiri, ketika membuka media sosial, apakah benar-benar sedang mencari kebenaran, atau sekadar mencari sesuatu yang membenarkan apa yang sejak awal ingin kita percaya?
Kita sebenarnya tidak kekurangan informasi. Justru sebaliknya, dibanjiri begitu banyak potongan peristiwa yang hadir tanpa konteks. Melihat beberapa detik rekaman, membaca satu sisi cerita, lalu merasa sudah memahami keseluruhannya.
Ketika informasi tersebut sesuai dengan pandangan pribadi, cenderung menerimanya tanpa banyak bertanya.
Sebaliknya, ketika fakta tidak sejalan dengan keyakinan, lebih mudah mencurigainya sebagai alasan, pembelaan, atau bahkan kebohongan. Tanpa disadari, kita tidak lagi menilai informasi berdasarkan kebenarannya, tetapi berdasarkan apakah informasi itu cocok dengan apa yang ingin dipercayai.
Keadaan menjadi semakin rumit ketika sebuah isu menyangkut seseorang yang sudah terlanjur tidak disukai. Satu potongan video dapat berubah menjadi vonis, sementara ribuan komentar seolah menjadi penguat kesalahan. Padahal, banyaknya orang yang percaya tidak menjadikan sebuah tuduhan sebagai bukti.
Sesuatu yang viral tetap bisa keliru, karena popularitas tidak pernah menjadi ukuran kebenaran. Di balik layar ponsel, juga sering lupa bahwa orang yang sedang dibicarakan memiliki kehidupan dan nama baik yang dampaknya tidak bisa begitu saja dipulihkan setelah menjadi sasaran penghakiman.
Tentu tidak harus berhenti mengkritik atau mempertanyakan persoalan yang menyangkut kepentingan publik. Sikap kritis justru penting dalam masyarakat yang sehat. Namun, kritik akan kehilangan maknanya jika dibangun dari informasi yang belum diperiksa.
Boleh berbeda pendapat tanpa harus merendahkan, boleh kecewa tanpa tergesa-gesa menuduh, dan boleh menyampaikan dugaan tanpa mengubahnya menjadi kepastian.
Mungkin yang perlu dibiasakan adalah memberi sedikit ruang antara apa yang dilihat dan kesimpulan yang dibuat, mencari sumber, memahami konteks, serta memberi kesempatan kepada pihak lain untuk menjelaskan.
Tantangan terbesar di ruang digital mungkin bukan bagaimana mendapatkan informasi, melainkan bagaimana tetap waras ketika informasi datang tanpa henti.
Sebelum membagikan sesuatu atau ikut menghakimi, barangkali perlu bertanya, apakah sudah memahami persoalannya, atau baru melihat sebagian? Dan yang lebih penting, apakah sedang mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran? Tidak masalah jika sesekali harus berkata, “belum tahu.”
Sebab kesediaan mengakui bahwa pengetahuan yang terbatas jauh lebih sehat daripada merasa benar hanya karena berada bersama kerumunan. Kebenaran kadang membutuhkan, untuk menunda reaksi, membuka pikiran, dan bersedia menerima kenyataan meski hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan dan yang dipercayai.***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)