Tentu tidak harus berhenti mengkritik atau mempertanyakan persoalan yang menyangkut kepentingan publik. Sikap kritis justru penting dalam masyarakat yang sehat. Namun, kritik akan kehilangan maknanya jika dibangun dari informasi yang belum diperiksa.
Boleh berbeda pendapat tanpa harus merendahkan, boleh kecewa tanpa tergesa-gesa menuduh, dan boleh menyampaikan dugaan tanpa mengubahnya menjadi kepastian.
Baca Juga : Semangat 17 Agustus: Menjaga Kemerdekaan, Melanjutkan Perjuangan
Mungkin yang perlu dibiasakan adalah memberi sedikit ruang antara apa yang dilihat dan kesimpulan yang dibuat, mencari sumber, memahami konteks, serta memberi kesempatan kepada pihak lain untuk menjelaskan.
Tantangan terbesar di ruang digital mungkin bukan bagaimana mendapatkan informasi, melainkan bagaimana tetap waras ketika informasi datang tanpa henti.
Sebelum membagikan sesuatu atau ikut menghakimi, barangkali perlu bertanya, apakah sudah memahami persoalannya, atau baru melihat sebagian? Dan yang lebih penting, apakah sedang mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran? Tidak masalah jika sesekali harus berkata, “belum tahu.”
Baca Juga : Objektivitas dan Rasionalitas, Ujian Terberat Persahabatan di Lingkar Kekuasaan
Sebab kesediaan mengakui bahwa pengetahuan yang terbatas jauh lebih sehat daripada merasa benar hanya karena berada bersama kerumunan. Kebenaran kadang membutuhkan, untuk menunda reaksi, membuka pikiran, dan bersedia menerima kenyataan meski hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan dan yang dipercayai.***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
