Logo Harian.news

Di Era Digital, Kita Mencari Kebenaran atau Pembenaran?

Editor : Andi Awal Tjoheng Jumat, 21 Agustus 2026 10:57
Di Era Digital, Kita Mencari Kebenaran atau Pembenaran? ||(ilustrasi_AI@harian.news)
Di Era Digital, Kita Mencari Kebenaran atau Pembenaran? ||([email protected])

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Di tengah derasnya arus informasi, kita hidup dalam keadaan yang serba cepat, cepat melihat, cepat percaya, cepat bereaksi, bahkan cepat menghakimi.

Sebuah video pendek dapat memancing kemarahan, sebuah unggahan dapat membentuk kesimpulan, dan ribuan komentar yang sependapat sering membuat kita merasa semakin yakin.

Baca Juga : Semangat 17 Agustus: Menjaga Kemerdekaan, Melanjutkan Perjuangan

Namun, di tengah semua kecepatan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin perlu diajukan kepada diri sendiri, ketika membuka media sosial, apakah benar-benar sedang mencari kebenaran, atau sekadar mencari sesuatu yang membenarkan apa yang sejak awal ingin kita percaya?

Kita sebenarnya tidak kekurangan informasi. Justru sebaliknya, dibanjiri begitu banyak potongan peristiwa yang hadir tanpa konteks. Melihat beberapa detik rekaman, membaca satu sisi cerita, lalu merasa sudah memahami keseluruhannya.

Ketika informasi tersebut sesuai dengan pandangan pribadi, cenderung menerimanya tanpa banyak bertanya.

Baca Juga : Objektivitas dan Rasionalitas, Ujian Terberat Persahabatan di Lingkar Kekuasaan

Sebaliknya, ketika fakta tidak sejalan dengan keyakinan, lebih mudah mencurigainya sebagai alasan, pembelaan, atau bahkan kebohongan. Tanpa disadari, kita tidak lagi menilai informasi berdasarkan kebenarannya, tetapi berdasarkan apakah informasi itu cocok dengan apa yang ingin dipercayai.

Keadaan menjadi semakin rumit ketika sebuah isu menyangkut seseorang yang sudah terlanjur tidak disukai. Satu potongan video dapat berubah menjadi vonis, sementara ribuan komentar seolah menjadi penguat kesalahan. Padahal, banyaknya orang yang percaya tidak menjadikan sebuah tuduhan sebagai bukti.

Sesuatu yang viral tetap bisa keliru, karena popularitas tidak pernah menjadi ukuran kebenaran. Di balik layar ponsel, juga sering lupa bahwa orang yang sedang dibicarakan memiliki kehidupan dan nama baik yang dampaknya tidak bisa begitu saja dipulihkan setelah menjadi sasaran penghakiman.

Baca Juga : Usai Damai PWI–Hotman Paris, Martabat Jurnalis Tetap Menjadi Pertanyaan

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)

Follow Social Media Kami

KomentarAnda