Eric Cantona Akui Jalani Psikoterapi Sejak Usia 20 Tahun

Eric Cantona: Saya Masih Berjuang Melawan Iblis di Dalam Diri Sejak 20 Tahun
HARIAN.NEWS, JAKARTA – Legenda sepak bola Prancis yang karismatik, Eric Cantona, akhirnya membuka tabir perjalanan panjang perjuangan mentalnya. Pria berusia 59 tahun itu mengakui telah menjalani psikoterapi sejak usia 20 tahun—dan hingga kini masih terus berjuang melawan apa yang ia sebut sebagai “iblis” dalam dirinya.
Pengakuan mengejutkan ini terungkap dalam film dokumenter berjudul “Cantona”, salah satu dari dua dokumenter sepak bola yang tayang perdana di Festival Film Cannes 2026. Film berdurasi 115 menit karya sutradara Inggris, David Tryhorn dan Ben Nicholas, ini menghadirkan potret intim dan vulnerabel dari sosok yang dikenal sebagai salah satu karakter paling kompleks dalam sejarah sepak bola modern.
Terapi Panjang Selama 39 Tahun
Dalam wawancara eksklusif dengan AFP, Sabtu (16/5), Cantona tidak ragu berbagi pengalaman pribadinya. “Saya sudah menjalaninya dalam porsi yang banyak. Saya memulainya pada usia 20 tahun dan saya terus melanjutkannya di berbagai momen yang berbeda. Ini adalah sebuah dunia yang sangat menarik perhatian saya,” ungkapnya.
Pengakuan ini mematahkan stereotip bahwa figur publik dan atlet elite selalu tampil sempurna tanpa celah. Cantona justru menunjukkan bahwa di balik reputasinya yang eksplosif dan karismatik, tersimpan perjuangan mental yang tak pernah berakhir.
“Saya terus-menerus mencoba mencari tahu siapa diri saya sebenarnya, dan itulah alasan mengapa saya melakukan yang terbaik untuk bertindak berdasarkan insting sebanyak mungkin. Tentu saja, ada kalanya keadaan menjadi sedikit tidak terkendali, tetapi itu adalah bagian dari kehidupan dan saya menerimanya,” jelas mantan striker yang kini berkarier sebagai aktor tersebut.
‘Api’ dan ‘Iblis’ yang Membentuk Karakter
Dalam dokumenter tersebut, Cantona berulang kali merujuk pada metafora “api” dan “iblis” yang bersemayam dalam dirinya. Dua kekuatan internal inilah yang menjadikannya sosok paradoks: di satu sisi mudah meledak dan kontroversial, di sisi lain mampu menciptakan momen-momen jenius yang mengubah jalannya pertandingan.
Rekan setimnya di Manchester United, David Beckham, dan mantan manajer legendaris Sir Alex Ferguson turut memberikan kesaksian dalam film ini. Kombinasi wawancara mendalam, arsip pertandingan ikonik, dan iringan musik memikat dari grup musik elektronik legendaris era 1990-an, Orbital, menciptakan pengalaman sinematik yang powerful.
Lima Tahun Emas di Old Trafford
Dokumenter ini berfokus pada periode emas Cantona selama lima tahun bersama Manchester United (1992-1997). Masa-masa itulah yang melambungkan namanya menjadi ikon sepak bola dunia, sekaligus periode penuh kontroversi.
Insiden paling terkenal adalah “kungfu kick” pada Januari 1995, ketika Cantona melancarkan tendangan spektakuler ke arah seorang suporter Crystal Palace setelah mendapat kartu merah. Insiden itu menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah Premier League dan mencoreng reputasinya.
“Tentu saja, saya punya banyak ingatan tentang hal itu di kepala saya dan adalah hal yang baik untuk bisa menerimanya. Saya membuat mereka hidup berdampingan bersama dan mereka suka berpesta,” ujar Cantona dengan gaya khasnya yang puitis.
Gelombang Dokumenter Sepak Bola di Cannes
Kehadiran dokumenter “Cantona” di Cannes bukan fenomena tunggal. Festival film bergengsi tahun ini memang diwarnai sejumlah produksi bertema sepak bola yang mengejutkan.
Film Argentina berjudul “The Match” menyoroti pertandingan perempat final Piala Dunia 1986 antara Inggris dan Argentina—laga yang ditentukan oleh gol kontroversial “Tangan Tuhan” Diego Maradona.
Tren dokumenter sepak bola memang mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Serial Netflix “Beckham” pada 2023 sukses besar membantu mempopulerkan genre ini di mata pemirsa global, membuktikan bahwa kisah di balik lapangan hijau memiliki daya tarik universal.
Tak berhenti di situ, sutradara Italia ternama Paolo Sorrentino baru saja mengumumkan proyek film baru tentang pelatih legendaris Carlo Ancelotti di Cannes pada 15 Mei kemarin.
Pesan Universal tentang Kesehatan Mental
Keterbukaan Cantona tentang perjalanan psikoterapinya mengirim pesan penting: kesehatan mental adalah perjuangan seumur hidup, bahkan bagi mereka yang tampak paling kuat dan sukses.
“Saya masih terus berjuang,” akunya jujur. Pengakuan ini bukan tanda kelemahan, melainkan bukti keberanian untuk menghadapi realitas diri sendiri—sesuatu yang mungkin lebih sulit daripada menghadapi pertahanan terketat di lapangan hijau.
Bagi Cantona, terapi bukan tentang menghilangkan “iblis” dalam dirinya, melainkan belajar hidup berdampingan dengannya. Api yang sama yang pernah membakar dalam insiden kungfu kick adalah api yang juga menyalakan gol-gol spektakuler dan umpan-umpan jenius yang menghibur jutaan penggemar.
“Dia adalah paradoks berjalan,” demikian mungkin kesimpulan terbaik untuk Eric Cantona—sosok yang terus mencari dirinya sendiri melalui psikoterapi, seni, dan sepak bola, sambil mengajarkan kita semua bahwa menerima kelemahan adalah bagian dari menjadi manusia seutuhnya. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG