Logo Harian.news

HARIAN LIFESTYLE

Eric Cantona Akui Jalani Psikoterapi Sejak Usia 20 Tahun

Editor : Andi Awal Tjoheng Minggu, 17 Mei 2026 16:59
Legenda Manchester United (MU), Eric Cantona (Foto: EPA/The Straits Times)
Legenda Manchester United (MU), Eric Cantona (Foto: EPA/The Straits Times)

“Tentu saja, saya punya banyak ingatan tentang hal itu di kepala saya dan adalah hal yang baik untuk bisa menerimanya. Saya membuat mereka hidup berdampingan bersama dan mereka suka berpesta,” ujar Cantona dengan gaya khasnya yang puitis.

Gelombang Dokumenter Sepak Bola di Cannes

Baca Juga : Film Dokumenter Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

Kehadiran dokumenter “Cantona” di Cannes bukan fenomena tunggal. Festival film bergengsi tahun ini memang diwarnai sejumlah produksi bertema sepak bola yang mengejutkan.

Film Argentina berjudul “The Match” menyoroti pertandingan perempat final Piala Dunia 1986 antara Inggris dan Argentina—laga yang ditentukan oleh gol kontroversial “Tangan Tuhan” Diego Maradona.

Tren dokumenter sepak bola memang mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Serial Netflix “Beckham” pada 2023 sukses besar membantu mempopulerkan genre ini di mata pemirsa global, membuktikan bahwa kisah di balik lapangan hijau memiliki daya tarik universal.

Baca Juga : Siapa Dandhy Laksono? Pembuat Film Pesta Babi yang Nobarnya Dibredel

Tak berhenti di situ, sutradara Italia ternama Paolo Sorrentino baru saja mengumumkan proyek film baru tentang pelatih legendaris Carlo Ancelotti di Cannes pada 15 Mei kemarin.

Pesan Universal tentang Kesehatan Mental

Keterbukaan Cantona tentang perjalanan psikoterapinya mengirim pesan penting: kesehatan mental adalah perjuangan seumur hidup, bahkan bagi mereka yang tampak paling kuat dan sukses.

“Saya masih terus berjuang,” akunya jujur. Pengakuan ini bukan tanda kelemahan, melainkan bukti keberanian untuk menghadapi realitas diri sendiri—sesuatu yang mungkin lebih sulit daripada menghadapi pertahanan terketat di lapangan hijau.

Bagi Cantona, terapi bukan tentang menghilangkan “iblis” dalam dirinya, melainkan belajar hidup berdampingan dengannya. Api yang sama yang pernah membakar dalam insiden kungfu kick adalah api yang juga menyalakan gol-gol spektakuler dan umpan-umpan jenius yang menghibur jutaan penggemar.

“Dia adalah paradoks berjalan,” demikian mungkin kesimpulan terbaik untuk Eric Cantona—sosok yang terus mencari dirinya sendiri melalui psikoterapi, seni, dan sepak bola, sambil mengajarkan kita semua bahwa menerima kelemahan adalah bagian dari menjadi manusia seutuhnya. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG

Follow Social Media Kami

KomentarAnda