Jangan Lihat Pengirimnya, Lihat Pesannya!

Jangan Lihat Pengirimnya, Lihat Pesannya!

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Sabtu malam di Warkop DK10 selalu punya suasana berbeda.

Di tengah aroma kopi hitam, suara sendok beradu gelas, dan gorengan yang makin cepat habis daripada bahan obrolan, tiga sahabat rasa saudara kembali berkumpul: Om Haria, Mas Bro, dan Deng Kio.

Belum lama duduk, Mas Bro langsung membuka percakapan.

“Kadang orang itu salah fokus,” katanya sambil menyeruput kopi hitam.
“Pesannya bagus, tapi karena yang bicara orang kecil, langsung dianggap angin lalu.”

Om Haria langsung mengangguk pelan.

“Betul itu. Kalau yang ngomong pejabat atau orang berpangkat, semua bilang siap-siap. Giliran rakyat biasa kasih masukan, malah dianggap cerewet.”

Deng Kio tertawa kecil.

“Padahal bisa jadi yang paling jujur justru orang kecil. Karena dia bicara dari apa yang dia rasakan sehari-hari.”

Mas Bro kembali menimpali dengan gaya santainya.

“Makanya ada pepatah: jangan lihat siapa yang mengirim pesan, tapi lihat isi pesannya.”

Suasana Warkop DK10 makin hangat.

Di meja mereka, kopi susu mulai tinggal setengah, pisang goreng makin berkurang, dan obrolan mulai naik level.

“Kadang orang terlalu silau lihat jabatan,” kata Om Haria.
“Merasa yang di atas pasti benar, yang di bawah pasti kurang paham.”

Deng Kio langsung menyela.

“Padahal yang di bawah itu sering lebih tahu keadaan sebenarnya.”

Mas Bro tersenyum tipis.

“Karena mereka yang merasakan langsung.”

Belum sempat Om Haria menjawab, tiba-tiba dari meja sebelah terdengar suara khas Daeng La’lang.

“Kalau bos marah, semua diam. Tapi kalau bawahan kasih saran, malah dibilang sok pintar!”

Meja langsung pecah oleh tawa.

Daeng La’lang lanjut lagi sambil mengangkat kopi susunya.

“Lucunya, banyak orang mau didengar… tapi tidak mau mendengar.”

“Wah… itu menampar sekali,” kata Deng Kio sambil tertawa.

Mas Bro mengangguk pelan.

“Makanya jangan gampang meremehkan orang. Yang di bawah belum tentu rendah, yang di atas belum tentu tinggi.”

Om Haria ikut menambahkan.

“Bisa saja yang di atas tinggi jabatan, tapi miskin hati.”

“Dan yang sederhana justru kaya nurani,” sambung Deng Kio cepat.

Suasana mendadak tenang sejenak.

Hanya suara kipas angin tua Warkop DK10 yang terdengar berputar pelan.

Daeng La’lang kembali nyeletuk.

“Sekarang ini orang lebih sibuk cari siapa yang salah, daripada cari apa yang benar.”

Mas Bro tertawa kecil.

“Itu sebabnya kritik sering dianggap musuh, bukan masukan.”

Om Haria lalu menutup obrolan malam itu dengan kalimat sederhana.

Kalau pesan itu baik, ya ambil baiknya. Jangan sibuk lihat siapa yang bicara.”

Deng Kio mengangkat cangkir kopinya.

Karena kebenaran tidak selalu datang dari orang besar.”

Daeng La’lang langsung menyambar cepat.

“Kadang datang dari rakyat kecil… sambil ngopi di warkop!”

Semua pun tertawa.

Kopi habis.
Gorengan tandas.
Tapi pesan malam itu… masih menggantung di kepala. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG