Kepala Perpusnas: Banyak Perpustakaan Jadi Tempat Jin Beranak Pinak

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, E. Aminudin Aziz, melontarkan kritik pedas terhadap kondisi banyak perpustakaan sekolah dan umum di Tanah Air. Dengan nada prihatin, ia menggambarkan perpustakaan yang seharusnya menjadi pusat literasi justru berubah menjadi ruang sepi yang lebih banyak dihuni “jin” ketimbang manusia.
“Yang jaga perpustakaan juga ikut senang karena yang datang bukan hanya jin, tapi manusia. Tidak menunggu jin beranak pinak,” seloroh Aminudin dalam dialog media di Jakarta, Selasa (12/5), menyindir realitas pahit dunia literasi Indonesia.
Aminudin mengakui bahwa perpustakaan masih dipersepsikan negatif oleh masyarakat. Tempat ini dianggap sebagai ruang penyimpanan buku yang sunyi, bahkan mengerikan. Stigma ini merembet hingga ke petugas perpustakaan yang seolah mendapat “kutukan” saat ditugaskan di sana.
Program-program literasi yang pernah dicanangkan pun banyak yang menguap di tengah jalan. Salah satunya adalah gerakan membaca 15 menit sebelum masuk kelas yang sempat digalakkan namun lama-kelamaan hilang tanpa jejak.
“Ada program yang selama ini didengungkan tapi tidak pernah terjadi secara kontinyu. Misalnya, membaca 15 menit sebelum masuk kelas. Tapi lama kelamaan hilang lagi,” kenang Aminudin.
Untuk memutus mata rantai ini, Aminudin menawarkan solusi konkret. Gerakan mencintai perpustakaan harus dimulai dari bangku sekolah dengan mengubah paradigma pembelajaran.
“Jadi bukan buku yang dibawa ke ruang kelas, tapi murid masuk ke perpustakaan,” tegasnya.
Langkah ini dinilai strategis untuk membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan. Dengan membawa siswa langsung ke perpustakaan, interaksi antara pengunjung dan ruang baca akan terbangun secara alami. Petugas perpustakaan pun akan merasa dihargai karena ada aktivitas nyata yang terjadi.
Di sisi lain, Aminudin menyoroti masalah transparansi penggunaan anggaran. Pemerintah sebenarnya telah mengalokasikan 10 persen dari Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) khusus untuk pembelian buku non-teks. Namun, data terkait realisasi penggunaan dana ini sangat sulit dilacak.
“Kalau begitu kita gabungkan data antara Nomor Pokok Siswa Nasional (NPSN) dengan Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) agar data perpustakaan sama dengan dapodik,” usul Aminudin.
Integrasi data ini bertujuan menyeragamkan model pemberdayaan perpustakaan, baik di sekolah maupun non-sekolah, sehingga pembinaan yang dilakukan Perpusnas benar-benar berdampak dan terukur.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengumumkan komitmen pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan. Tahun ini, total Rp2,2 triliun disiapkan untuk program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang menyasar 938 SMK, SLB, dan PKBM/SKB di seluruh Indonesia.
Dana yang diterima satuan pendidikan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari pembangunan gedung baru, rehabilitasi berat, hingga rehabilitasi sedang. Termasuk di dalamnya adalah pembangunan dan perbaikan fasilitas perpustakaan.
Tatang mencatat, pada 2025 lalu, dari 1.465 SMK yang menerima program Revitalisasi Satuan Pendidikan, berhasil dibangun 155 gedung perpustakaan baru dan 77 rehabilitasi fisik.
“Revitalisasi bukan hanya pembangunan atau renovasi gedung, tapi membangun ekosistem pendidikan sehingga terjadi transformasi pendidikan,” tegas Tatang.
Langkah pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk revitalisasi perpustakaan patut diapresiasi. Namun, tantangan terbesar bukan sekadar membangun gedung fisik, melainkan mengubah mindset dan budaya literasi masyarakat.
Tanpa perubahan paradigma ini, dikhawatirkan gedung-gedung perpustakaan baru yang dibangun hanya akan menjadi “rumah mewah” bagi jin-jin yang selama ini “beranak pinak” di ruang-ruang sepi tersebut.
Kunci keberhasilan ada pada kolaborasi: pemerintah menyediakan fasilitas, sekolah menciptakan ekosistem literasi yang hidup, dan masyarakat mengubah persepsi tentang perpustakaan dari tempat menyimpan buku menjadi pusat pembelajaran yang dinamis.
Saatnya perpustakaan Indonesia ramai oleh manusia, bukan jin. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG