“Kalau begitu kita gabungkan data antara Nomor Pokok Siswa Nasional (NPSN) dengan Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) agar data perpustakaan sama dengan dapodik,” usul Aminudin.
Integrasi data ini bertujuan menyeragamkan model pemberdayaan perpustakaan, baik di sekolah maupun non-sekolah, sehingga pembinaan yang dilakukan Perpusnas benar-benar berdampak dan terukur.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengumumkan komitmen pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan. Tahun ini, total Rp2,2 triliun disiapkan untuk program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang menyasar 938 SMK, SLB, dan PKBM/SKB di seluruh Indonesia.
Dana yang diterima satuan pendidikan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari pembangunan gedung baru, rehabilitasi berat, hingga rehabilitasi sedang. Termasuk di dalamnya adalah pembangunan dan perbaikan fasilitas perpustakaan.
Tatang mencatat, pada 2025 lalu, dari 1.465 SMK yang menerima program Revitalisasi Satuan Pendidikan, berhasil dibangun 155 gedung perpustakaan baru dan 77 rehabilitasi fisik.
Baca Juga : Bimtek Perpustakaan Digital Bulukumba: Desa Jadi Ujung Tombak Literasi
“Revitalisasi bukan hanya pembangunan atau renovasi gedung, tapi membangun ekosistem pendidikan sehingga terjadi transformasi pendidikan,” tegas Tatang.
Langkah pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk revitalisasi perpustakaan patut diapresiasi. Namun, tantangan terbesar bukan sekadar membangun gedung fisik, melainkan mengubah mindset dan budaya literasi masyarakat.
Tanpa perubahan paradigma ini, dikhawatirkan gedung-gedung perpustakaan baru yang dibangun hanya akan menjadi “rumah mewah” bagi jin-jin yang selama ini “beranak pinak” di ruang-ruang sepi tersebut.
Baca Juga : Bupati Paris Yasir Resmikan Reading Corner SDN 20 Bangkala
Kunci keberhasilan ada pada kolaborasi: pemerintah menyediakan fasilitas, sekolah menciptakan ekosistem literasi yang hidup, dan masyarakat mengubah persepsi tentang perpustakaan dari tempat menyimpan buku menjadi pusat pembelajaran yang dinamis.
Saatnya perpustakaan Indonesia ramai oleh manusia, bukan jin. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
