Ketika Krisis Global Masuk ke Dapur Kita

Ketika Krisis Global Masuk ke Dapur Kita

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – “ Krisis global ” sering terdengar seperti sesuatu yang jauh, terjadi di ruang diplomasi, pasar internasional, atau medan perang yang tak pernah kita lihat langsung.

Namun hari ini, ia menjelma menjadi sesuatu yang akrab, BBM akan langka, harga bahan pokok yang pasti naik, isi dapur yang berubah, dan rasa cemas yang bertambah.

Dunia yang bergejolak tak lagi berhenti di layar berita, ia masuk ke rumah kita, mengendap di dapur, dan diam-diam mengubah cara kita menjalani hidup sehari-hari.

Semua itu nyata, dan tak jarang terasa menyesakkan.
Melihat dunia dengan mata yang baru bukan berarti menutup diri dari kenyataan, tetapi memilih jarak yang sehat dari hal-hal yang tak mampu kita jangkau.

Namun, di tengah arus besar itu, kita sering lupa bahwa tidak semua harus kita tanggung sekaligus. Ada beban yang memang bukan untuk dipikul sendiri.

Sejenak melepaskan diri dari upaya memahami atau menyelesaikan semuanya bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan cara menjaga kewarasan.

Ketika perhatian tak lagi dipaksa menjangkau yang jauh, masa depan yang kabur, konflik yang tak kunjung usai, kita mulai melihat yang dekat dengan lebih jernih.

Udara yang kita hirup, tanah yang kita pijak, ritme sederhana kehidupan sehari-hari, di situlah jawaban kecil bersembunyi. Bukan jawaban besar yang mengubah dunia, tetapi cukup untuk menuntun langkah berikutnya.

Barangkali yang kita butuhkan bukan lebih banyak informasi atau analisis, melainkan keberanian untuk hadir sepenuhnya di saat ini.

Mengakui bahwa dunia memang kompleks, namun hidup tetap berlangsung dalam hal-hal sederhana yang bisa kita rawat, menkonsumsi makan yang ada di sekitar kita, berbicara dengan kontek dan keseharian, berinteraksi dengan wajar, dan menjaga mood buster yang stabil.

Dunia tidak selalu harus dipahami secara utuh untuk bisa dijalani. Kadang, cukup dengan membuka mata, benar-benar membuka mata, kita akan menemukan bahwa harapan tidak hilang. Ia hanya bersembunyi, menunggu kita berhenti sejenak dan melihatnya kembali.

Ketika krisis global benar-benar masuk ke dapur kita, barangkali yang tersisa bukanlah kemampuan untuk mengendalikan dunia, melainkan kebijaksanaan untuk menata yang dekat.

Di antara keterbatasan dan ketidakpastian, kita belajar bahwa menjaga kewarasan, merawat yang sederhana, dan tetap berpijak pada yang nyata adalah bentuk paling sunyi dari ketahanan.

Dunia boleh saja terus bergejolak, tetapi hidup tetap berlangsung dan di sanalah kita memilih untuk tetap utuh. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)