HARIAN.NEWS, MAKASSAR – “ Krisis global ” sering terdengar seperti sesuatu yang jauh, terjadi di ruang diplomasi, pasar internasional, atau medan perang yang tak pernah kita lihat langsung.
Namun hari ini, ia menjelma menjadi sesuatu yang akrab, BBM akan langka, harga bahan pokok yang pasti naik, isi dapur yang berubah, dan rasa cemas yang bertambah.
Baca Juga : Demokrasi di Antara Demagogi dan Pedagogi
Dunia yang bergejolak tak lagi berhenti di layar berita, ia masuk ke rumah kita, mengendap di dapur, dan diam-diam mengubah cara kita menjalani hidup sehari-hari.
Semua itu nyata, dan tak jarang terasa menyesakkan.
Melihat dunia dengan mata yang baru bukan berarti menutup diri dari kenyataan, tetapi memilih jarak yang sehat dari hal-hal yang tak mampu kita jangkau.
Namun, di tengah arus besar itu, kita sering lupa bahwa tidak semua harus kita tanggung sekaligus. Ada beban yang memang bukan untuk dipikul sendiri.
Baca Juga : Tenaga KDMP dan KNMP untuk Mencetak Kader Pembangunan Bukan Korban Kelalaian
Sejenak melepaskan diri dari upaya memahami atau menyelesaikan semuanya bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan cara menjaga kewarasan.
Ketika perhatian tak lagi dipaksa menjangkau yang jauh, masa depan yang kabur, konflik yang tak kunjung usai, kita mulai melihat yang dekat dengan lebih jernih.
Udara yang kita hirup, tanah yang kita pijak, ritme sederhana kehidupan sehari-hari, di situlah jawaban kecil bersembunyi. Bukan jawaban besar yang mengubah dunia, tetapi cukup untuk menuntun langkah berikutnya.
Baca Juga : Pers Bermartabat Ketika Memilih Tidak Mengadili
Barangkali yang kita butuhkan bukan lebih banyak informasi atau analisis, melainkan keberanian untuk hadir sepenuhnya di saat ini.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
