Ketika Mistisisme Menjaga Alam dan Modernitas Mengabaikannya

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Kemajuan teknologi adalah keniscayaan. Perkembangan digital, industrialisasi, dan modernisasi telah menjawab banyak kebutuhan manusia serta menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun di balik capaian tersebut, muncul ironi sosial: kegagalan menjaga keseimbangan, khususnya keseimbangan antara manusia dan alam.
Dalam masyarakat modern yang menjunjung rasionalitas, kita justru kehilangan salah satu mekanisme sosial paling efektif dalam menjaga lingkungan, yakni nilai-nilai mistis yang dahulu hidup dalam budaya masyarakat.
Kita kerap mendengar nasihat orang tua, “jangan tebang pohon besar itu, ada penghuninya.” Bagi generasi kini, kalimat itu mungkin terdengar irasional.
Namun secara sosial, larangan tersebut terbukti ampuh menjaga pohon-pohon tua tetap berdiri. Demikian pula ungkapan seperti, “jangan berpindah-pindah tempat saat makan, nanti lama menikahnya.” Secara logika mungkin sulit diterima, tetapi efek praktisnya jelas: makanan tidak tercecer dan tidak terbuang sia-sia.
Contoh lain dapat ditemukan dalam kisah tentang Nyiroro Kidul yang dipercaya murka ketika laut selatan dirusak atau dicemari. Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, pesan ekologisnya sangat kuat: laut harus dihormati, dijaga, dan tidak dieksploitasi secara serampangan.
Dalam konteks ini, mistisisme bukan sekadar takhayul, melainkan instrumen sosial. Ia berfungsi sebagai pagar etika yang mengatur relasi manusia dengan alam.
Sosiolog Jerman, Max Weber, menyebut proses modernisasi sebagai disenchantment of the world, yakni hilangnya unsur magis dan sakral dalam kehidupan manusia. Dunia menjadi rasional, terukur, dan ilmiah.
Namun dalam proses itu, alam perlahan berubah dari sesuatu yang dihormati menjadi sekadar objek produksi dan eksploitasi. Rasionalitas ekonomi menggantikan kesakralan ekologis.
Dari perspektif sosiologi lingkungan, masyarakat tradisional sejatinya memiliki ecological wisdom atau kearifan ekologis. Mitos, pamali, dan simbol budaya bekerja sebagai social control mechanism, mekanisme pengendalian sosial yang tidak bertumpu pada hukum tertulis, melainkan pada kesadaran kolektif dan rasa tanggung jawab moral.
Ketika mekanisme ini memudar, sementara kesadaran ekologis modern belum sepenuhnya terbentuk, ruang kosong itu kerap diisi oleh keserakahan.
Tentu, kita tidak sedang mengajak kembali pada pola pikir anti-ilmiah. Modernitas dan ilmu pengetahuan tetap menjadi fondasi penting bagi kemajuan peradaban. Pertanyaan mendasarnya adalah: apa yang kini menggantikan fungsi moral yang dahulu dijalankan oleh mistisisme?
Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang mengemuka melalui laporan World Commission on Environment and Development pada akhir 1980-an pada dasarnya membawa semangat serupa: memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengorbankan generasi mendatang.
Nilai tersebut sesungguhnya telah lama hidup dalam budaya Nusantara, hanya saja dahulu dibungkus dalam simbol, mitos, dan kearifan lokal.
Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukanlah menertawakan kearifan lama, melainkan mereinterpretasinya dalam bahasa zaman.
Pertama, pendidikan lingkungan perlu mengintegrasikan sains dengan kearifan lokal. Larangan menebang pohon dapat dijelaskan melalui konsep keseimbangan ekosistem; larangan mencemari laut dapat diperkuat dengan data ilmiah mengenai perubahan iklim dan kerusakan pesisir.
Kedua, kebijakan pembangunan harus berlandaskan etika ekologis, bukan semata mengejar pertumbuhan ekonomi. Regulasi tanpa kesadaran moral hanya akan menjadi dokumen administratif.
Ketiga, media dan tokoh publik memiliki tanggung jawab membangun narasi baru: bahwa menjaga alam bukan sikap kuno, melainkan bentuk kecerdasan peradaban.
Pada akhirnya, persoalan kita hari ini bukan sekadar hilangnya mistisisme, melainkan pudarnya mekanisme moral yang dahulu membatasi kerakusan manusia.
Jika modernitas telah menghapus rasa takut terhadap mitos, maka harus ada pengganti yang lebih kokoh: kesadaran ekologis yang berpijak pada ilmu pengetahuan sekaligus nilai budaya.
Tanpa itu, teknologi hanya akan menjadi alat yang mempercepat kerusakan yang kita ciptakan sendiri. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : ERWIN AGUS ( Dosen STIA Abdul Haris Makassar)