Dari perspektif sosiologi lingkungan, masyarakat tradisional sejatinya memiliki ecological wisdom atau kearifan ekologis. Mitos, pamali, dan simbol budaya bekerja sebagai social control mechanism, mekanisme pengendalian sosial yang tidak bertumpu pada hukum tertulis, melainkan pada kesadaran kolektif dan rasa tanggung jawab moral.
Ketika mekanisme ini memudar, sementara kesadaran ekologis modern belum sepenuhnya terbentuk, ruang kosong itu kerap diisi oleh keserakahan.
Baca Juga : Biogas PLN Bantu Warga Sinjai Sulap Limbah Ternak Jadi Energi Bersih
Tentu, kita tidak sedang mengajak kembali pada pola pikir anti-ilmiah. Modernitas dan ilmu pengetahuan tetap menjadi fondasi penting bagi kemajuan peradaban. Pertanyaan mendasarnya adalah: apa yang kini menggantikan fungsi moral yang dahulu dijalankan oleh mistisisme?
Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang mengemuka melalui laporan World Commission on Environment and Development pada akhir 1980-an pada dasarnya membawa semangat serupa: memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengorbankan generasi mendatang.
Nilai tersebut sesungguhnya telah lama hidup dalam budaya Nusantara, hanya saja dahulu dibungkus dalam simbol, mitos, dan kearifan lokal.
Baca Juga : Teknologi yang Tidak Serakah Memerlukan Pengorbanan
Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukanlah menertawakan kearifan lama, melainkan mereinterpretasinya dalam bahasa zaman.
Pertama, pendidikan lingkungan perlu mengintegrasikan sains dengan kearifan lokal. Larangan menebang pohon dapat dijelaskan melalui konsep keseimbangan ekosistem; larangan mencemari laut dapat diperkuat dengan data ilmiah mengenai perubahan iklim dan kerusakan pesisir.
Kedua, kebijakan pembangunan harus berlandaskan etika ekologis, bukan semata mengejar pertumbuhan ekonomi. Regulasi tanpa kesadaran moral hanya akan menjadi dokumen administratif.
Baca Juga : Nyepi dan Ramadan Sumber Inspirasi
Ketiga, media dan tokoh publik memiliki tanggung jawab membangun narasi baru: bahwa menjaga alam bukan sikap kuno, melainkan bentuk kecerdasan peradaban.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

