Logo Harian.news

Ketika Mistisisme Menjaga Alam dan Modernitas Mengabaikannya

Editor : Andi Awal Tjoheng Senin, 16 Februari 2026 23:00
Erwin Agus, Dosen STIA Abdul Haris Makassar ||ist
Erwin Agus, Dosen STIA Abdul Haris Makassar ||ist
APERSI

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Kemajuan teknologi adalah keniscayaan. Perkembangan digital, industrialisasi, dan modernisasi telah menjawab banyak kebutuhan manusia serta menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun di balik capaian tersebut, muncul ironi sosial: kegagalan menjaga keseimbangan, khususnya keseimbangan antara manusia dan alam.

Baca Juga : Biogas PLN Bantu Warga Sinjai Sulap Limbah Ternak Jadi Energi Bersih

Dalam masyarakat modern yang menjunjung rasionalitas, kita justru kehilangan salah satu mekanisme sosial paling efektif dalam menjaga lingkungan, yakni nilai-nilai mistis yang dahulu hidup dalam budaya masyarakat.

Kita kerap mendengar nasihat orang tua, “jangan tebang pohon besar itu, ada penghuninya.” Bagi generasi kini, kalimat itu mungkin terdengar irasional.

Namun secara sosial, larangan tersebut terbukti ampuh menjaga pohon-pohon tua tetap berdiri. Demikian pula ungkapan seperti, “jangan berpindah-pindah tempat saat makan, nanti lama menikahnya.” Secara logika mungkin sulit diterima, tetapi efek praktisnya jelas: makanan tidak tercecer dan tidak terbuang sia-sia.

Baca Juga : Teknologi yang Tidak Serakah Memerlukan Pengorbanan

Contoh lain dapat ditemukan dalam kisah tentang Nyiroro Kidul yang dipercaya murka ketika laut selatan dirusak atau dicemari. Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, pesan ekologisnya sangat kuat: laut harus dihormati, dijaga, dan tidak dieksploitasi secara serampangan.

Dalam konteks ini, mistisisme bukan sekadar takhayul, melainkan instrumen sosial. Ia berfungsi sebagai pagar etika yang mengatur relasi manusia dengan alam.

Sosiolog Jerman, Max Weber, menyebut proses modernisasi sebagai disenchantment of the world, yakni hilangnya unsur magis dan sakral dalam kehidupan manusia. Dunia menjadi rasional, terukur, dan ilmiah.

Baca Juga : Nyepi dan Ramadan Sumber Inspirasi

Namun dalam proses itu, alam perlahan berubah dari sesuatu yang dihormati menjadi sekadar objek produksi dan eksploitasi. Rasionalitas ekonomi menggantikan kesakralan ekologis.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ERWIN AGUS ( Dosen STIA Abdul Haris Makassar)

Follow Social Media Kami

KomentarAnda