Kisah Haru Vivin, Siswi Papua Sekolah Sambil Gendong Adik
Ibunya telah tiada, ayah tak selalu ada. Namun Vivin tak menyerah demi mimpi sekolah dan masa depan adiknya
HARIAN.NEWS,PAPUA PEGUNUNGAN – Sebuah video sederhana yang menampilkan seorang siswi SMP di Papua yang mengikuti pelajaran sambil menggendong adik balitanya membuat jutaan netizen terenyuh.
Gadis kecil itu bernama Vivin, pelajar kelas 7 di SMP Negeri Eregi, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan. Kisah perjuangannya viral setelah diunggah oleh gurunya, Ardiansyah, lewat akun TikTok @gr_ancha.
Video tersebut memperlihatkan Vivin tengah duduk di bangku kelas sambil fokus mendengarkan pelajaran. Di punggungnya, seorang adik kecil tertidur dalam gendongan.
Ibunya Meninggal, Ayahnya Kewalahan
Dibalik ketegaran Vivin, tersimpan kisah pilu. Beberapa bulan lalu, ibunya meninggal dunia akibat terseret banjir bandang. Sejak saat itu, Vivin merawat adik bungsunya yang masih berusia sekitar satu tahun.
Sementara sang ayah, harus berjuang sendiri membesarkan tujuh anak. Tak mampu mengurus semuanya sekaligus, maka Vivin mengambil peran ganda: menjadi pelajar sekaligus pengasuh.

Kediaman Vivin bersama ayahnya dan 6 orang saudaranya di kampung terpencil di Yalimo, Papua Pegunungan ||tangkaplayar_TikTok@gr_ancha
“Namanya Vivin, siswi saya. Ibunya meninggal karena hanyut saat banjir. Sejak itu, dia tak pernah meninggalkan adiknya di rumah. Digendong terus ke sekolah,” ungkap Ardiansyah di caption TikToknya, dilansir harian.news, Jumat (30/5/2025).
Sekolah Tak Pernah Absen, Meski Mengantuk
Guru-guru di sekolah sering melihat Vivin mengantuk saat pelajaran. Namun mereka memaklumi. Menurut Ardiansyah, kemungkinan Vivin harus begadang tiap malam merawat adiknya yang rewel dan menangis mencari ibunya.
“Kalau dia tertidur di kelas, kami bisa mengerti. Dia sedang berjuang sendirian. Kasih sayang dan dekapan ibunya kini ada di dirinya,” tulis sang guru lirih.
Viral dan Dihujani Komentar Netizen: “Dimana KPAI?”
Unggahan menyentuh ini langsung viral dan dibanjiri komentar haru dari warganet. Banyak yang menandai KPAI, tokoh publik, dan pemerintah, meminta agar ada perhatian lebih pada kondisi Vivin.
Komentar-komentar seperti:
“KPAI lihat ini! Pikirkan anak-anak seperti Vivin!”
“Peluk jauh untuk Vivin. Semoga jadi orang hebat kelak, sayang.”
“Dia masih anak-anak, tapi harus jadi ibu. Ini tanggung jawab kita bersama.”
Kisah Vivin pun menyebar luas di berbagai platform sosial media dan memicu diskusi publik soal ketimpangan akses pendidikan dan perlindungan anak di daerah tertinggal.
Lebih dari Sekadar Kisah Sedih
Kisah Vivin bukan hanya tentang duka, tapi tentang ketangguhan seorang anak perempuan yang tetap berjuang di tengah badai kehidupan. Ia hadir sebagai simbol harapan, cinta kakak-adik, dan semangat belajar yang tak padam meski dalam keterbatasan.
“Anak ini luar biasa. Bukan hanya kuat, tapi juga penuh kasih. Kami hanya bisa membantu semampu kami di sekolah,” tutur Ardiansyah lirih.
Saatnya Pemerintah Turun Tangan
Viralnya kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik angka statistik pendidikan nasional, ada manusia-manusia kecil yang memikul beban besar. Vivin bukan satu-satunya, dan tak seharusnya dibiarkan berjuang sendiri.
Sudah waktunya pemerintah, KPAI, Dinas Sosial, dan lembaga perlindungan anak turun langsung ke daerah-daerah seperti Yalimo. Anak-anak seperti Vivin butuh lebih dari sekadar pujian dan simpati — mereka butuh perlindungan, pendidikan yang layak, dan masa depan. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News