Viral dan Dihujani Komentar Netizen: “Dimana KPAI?”
Unggahan menyentuh ini langsung viral dan dibanjiri komentar haru dari warganet. Banyak yang menandai KPAI, tokoh publik, dan pemerintah, meminta agar ada perhatian lebih pada kondisi Vivin.
Baca Juga : Meta dan Google Melanggar PP Tunas, Menkomdigi Kirim Surat Panggilan
Komentar-komentar seperti:
“KPAI lihat ini! Pikirkan anak-anak seperti Vivin!”
“Peluk jauh untuk Vivin. Semoga jadi orang hebat kelak, sayang.”
Baca Juga : PP Tunas 2026 Berlaku, Orang Tua Wajib Tahu Aturan Baru Medsos Anak
“Dia masih anak-anak, tapi harus jadi ibu. Ini tanggung jawab kita bersama.”
Kisah Vivin pun menyebar luas di berbagai platform sosial media dan memicu diskusi publik soal ketimpangan akses pendidikan dan perlindungan anak di daerah tertinggal.
Lebih dari Sekadar Kisah Sedih
Baca Juga : Bukan dari Indonesia! Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Ternyata Hoaks
Kisah Vivin bukan hanya tentang duka, tapi tentang ketangguhan seorang anak perempuan yang tetap berjuang di tengah badai kehidupan. Ia hadir sebagai simbol harapan, cinta kakak-adik, dan semangat belajar yang tak padam meski dalam keterbatasan.
“Anak ini luar biasa. Bukan hanya kuat, tapi juga penuh kasih. Kami hanya bisa membantu semampu kami di sekolah,” tutur Ardiansyah lirih.
Saatnya Pemerintah Turun Tangan
Baca Juga : Video Sawit Viral Part 2 Ramai Dicari, Benarkah Ada?
Viralnya kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik angka statistik pendidikan nasional, ada manusia-manusia kecil yang memikul beban besar. Vivin bukan satu-satunya, dan tak seharusnya dibiarkan berjuang sendiri.
Sudah waktunya pemerintah, KPAI, Dinas Sosial, dan lembaga perlindungan anak turun langsung ke daerah-daerah seperti Yalimo. Anak-anak seperti Vivin butuh lebih dari sekadar pujian dan simpati — mereka butuh perlindungan, pendidikan yang layak, dan masa depan. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

