Krisdayanti Terima Saweran di Ultah Fenny Frans, Aktivis Budaya Gowa Desak Pencopotan Predikat Diva

Krisdayanti Terima Saweran di Ultah Fenny Frans, Aktivis Budaya Gowa Desak Pencopotan Predikat Diva

HARIAN.NEWS,GOWA – Puncak ulang tahun Fenny Frans, salah satu owner kosmetika di Sulsel berlangsung mewah. Digelar Sabtu malam di salah satu hotel berbintang di Makassar, manajemen Fenny frans mampu menghadirkan Krisdayanti salah satu Diva Pop Indonesia.

Penampilan Sang Diva saat menghibur ratusan undangan yang memenuhi Balla room acara, diakui selalu mampu menjadi maghnet.

Namun, disela acara tersebut, sebuah pertunjukan yang seketika memicu perdebatan di jagat media sosial, saat Sang Owner Fenny Frans menyodorkan uang keoada Sang Diva Pop Indonesia, Krisdayanti.

Saweran yang dilakukan Fenny Frans berupa tumpukan uang kertas bernilai Rp 50 ribu dan tumpukan uang Rp.100 ribu.

Sikap ini menimbulkan kecaman dari beberapa pihak. Menurutnya sikap Krisdayanti yang menerima pemberian uang ( saweran) mencederai predikatnya sebagai salah satu Diva pop ( papan atas) musisi Indonesia.

Naufal Dzakwan, aktivis muda Gowa mengaku kaget akan reaksi seorang KD.

” Status Diva adalah kasta tertinggi dalam status dirinya sebagai artis sekaligus musisi, sehingga keberadaan saweran di panggung KD mencoreng status Diva, baginya ada martabat yang wajib dijaga oleh Sang Diva yakni Integritas dan pesona khusus sebagai representasi musisi,” ungkap Nauval Dzakwan.

Kritik semacam ini merefleksikan kekhawatiran bahwa seni kini semakin ditakar bukan oleh karya dan ekspresi, tetapi oleh viralitas dan nilai ekonomi instan.

Salah seorang aktivis Musisi Jalanan yang sekaligus Ketua Umum KPJ Gowa, Revin memberikan perspektif dari dunia seni musik itu sendiri. Menurut Revin, persoalan ini tidak semata soal uang, tetapi soal makna seni dan hubungan antara penampil dengan penikmatnya.

“Saweran sejatinya adalah bentuk apresiasi. Namun ketika ditangkap publik melalui lensa konten viral, seringkali maknanya berubah. Musik dan performa seorang diva seperti KD, bukan hanya soal tampil dan mendapatkan uang, tapi soal pesan artistik yang disampaikan,” ujar Revin.

“Jika konteksnya bergeser ke sekadar tontonan uang yang berjatuhan, publik bisa kehilangan pemaknaan terhadap proses dan nilai seni itu sendiri,” pungkasnya.

Revin menambahkan bahwa platform digital telah memperluas interaksi antara musisi dan audiens, tetapi sekaligus membawa tantangan baru terhadap bagaimana karya seni dipahami.

“Kita harus tetap menjaga ruang apresiasi yang menghormati karya, bukan sekadar menghitung hitungan viral atau jumlah saweran,” kunci Revin.

” Musisi sejati atau artis dengan status Diva harus lepas dari pesona material ketika tampil di panggung publik, nuansa rasa atau seni sejati adalah segalanya, sehingga sikap seorang Diva bernama Krisdayanti mencoreng statusnya sebagai Diva Pop Indonesia,” ungkap Revin.

Keduanya berharap predikat seorang Diva Pop Indonesia yang kini disandang seorang Krisdayanti segera dicopot.

” Agak menggelikan ketika dirinya menerima saweran, apalagi KD adalah mantan Anggota DPR RI yang memiliki kasta tersendiri sebagai seorang tokoh Publik, maka statusnya sebagai Diva sebaiknya dicopot,” ungkap kedua aktivis seni dari Gowa tersebut. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : YUSRIZAL KAMARUDDIN