“Saweran sejatinya adalah bentuk apresiasi. Namun ketika ditangkap publik melalui lensa konten viral, seringkali maknanya berubah. Musik dan performa seorang diva seperti KD, bukan hanya soal tampil dan mendapatkan uang, tapi soal pesan artistik yang disampaikan,” ujar Revin.
“Jika konteksnya bergeser ke sekadar tontonan uang yang berjatuhan, publik bisa kehilangan pemaknaan terhadap proses dan nilai seni itu sendiri,” pungkasnya.
Revin menambahkan bahwa platform digital telah memperluas interaksi antara musisi dan audiens, tetapi sekaligus membawa tantangan baru terhadap bagaimana karya seni dipahami.
Baca Juga : Pernah Ramai, Fenny Frans Muncul lagi: Labrak hingga Sita Barang-barang eks ART
“Kita harus tetap menjaga ruang apresiasi yang menghormati karya, bukan sekadar menghitung hitungan viral atau jumlah saweran,” kunci Revin.
” Musisi sejati atau artis dengan status Diva harus lepas dari pesona material ketika tampil di panggung publik, nuansa rasa atau seni sejati adalah segalanya, sehingga sikap seorang Diva bernama Krisdayanti mencoreng statusnya sebagai Diva Pop Indonesia,” ungkap Revin.
Keduanya berharap predikat seorang Diva Pop Indonesia yang kini disandang seorang Krisdayanti segera dicopot.
Baca Juga : Cerita Fenny Frans Soal Penyakit yang Menyerang Bunda Ela Sebelum Meninggal Dunia
” Agak menggelikan ketika dirinya menerima saweran, apalagi KD adalah mantan Anggota DPR RI yang memiliki kasta tersendiri sebagai seorang tokoh Publik, maka statusnya sebagai Diva sebaiknya dicopot,” ungkap kedua aktivis seni dari Gowa tersebut. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
