Masjid sebagai Agen Pembentukan Karakter di Makassar

Masjid sebagai Agen Pembentukan Karakter di Makassar

HARIAN.NEWS,MAKASSAR — Inspeksi Mendadak Satgas Gabungan di THM (Taman Hiburan Malam) Helen’n Night Mart Makassar, mendapati sepasang LGBT berciuman dan pelanggaran berat lain, menjual minuman beralkohol golongan B dan C tanpa izin.

Walikota Makassar, Munafri Arifudin (Appi) mengatakan, sidak bukan hanya persoalan menertibkan aturan secara administratif tapi tentang moralitas dan nilai kultur masyarakat, soal keteladanan.

Disampaikan saat meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Al-Ikhlas di Kompek Nusa Indah Hertasning.

Masjid diharap sebagai agen pembentukan karakter di Makassar

Tugas berat dalam urusan moral terkait watak bukan persoalan mudah. Membutuhkan keluasan hati karena menyangkut reaksi masyarakat yang beragam yang bisa mempengaruhi efektivitas.

Apalagi jika terkait dengan kelompok tertentu yang memiliki kepentingan ekonomi atau politik. Belum lagi persoalan sumber daya akan sulit mengatasi pelanggaran moral di tempat hiburan.

Pepatah Jawa, watuk (batuk) bisa diobati tetapi watak tidak ada obatnya.

Tindakan yang tepat oleh seorang pemimpin sangat penting untuk melindungi masyarakat dari pengaruh negatif pergaulan sampai pelanggaran moral.

Tidak cukup hanya himbauan tanpa tindakan konkrit. Meningkatkan kesadaran melalui promosi nilai yang positif terus-menerus disertai sangsi wajib dilakukan.

Kepercayaan masyarakat pada kinerja serta legitimasi pemerintah yang tergerus harus dibangun.

Beberapa hal sejatinya dapat dilakukan untuk keluar dari dilema terkait watak dan karakter. Identifikasi masalah, memahami sifat pelanggaran moral yang terjadi, memberi sanksi, atas kekeliruan-kekeliruan bermasyarakat, mengawasi dan memonitor, tidak mudah terbawa emosi jika mereka berargumen mencederai, serta memastikan konsistensi terhadap komitmen.

Puncak dari seluruh usaha pemerintah menanggulangi fenomena terkait perilaku menyimpang adalah terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya moral dan etika dalam berinteraksi dengan masyarakat terkhusus di tempat hiburan.

Pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, tidak menjamin seseorang memiliki empati, cenderung suka-suka dia. Orang tua setengah mati membiayai, namun berujung kecewa.

Apa guna lulus dari sekolah tinggi namun tidak lulus dalam sekolah kehidupan. Kembali lagi ini persoalan pilihan hidup, dibutuhkan kekuatan penuh untuk meyakinkan ada yang harus dikoreksi dari gaya hidup yang mereka anut. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)