Menjelang Senja Pengabdian

Menjelang Senja Pengabdian

HARIAN.NEWS, GOWA – Saya selalu percaya bahwa setiap perubahan, sekecil apa pun, pasti akan membawa getaran baru dalam hidup seorang ASN. Maka ketika kabar tentang profiling ASN dalam rangka manajemen talenta itu pertama kali saya dengar, hati saya langsung menghangat.

Ada kegembiraan kecil yang melompat, seperti kebiasaan lama yang tak pernah hilang bahwa setiap kabar baru tentang kepegawaian selalu saya sambut dengan semangat, seolah di baliknya ada angin segar yang bisa membuka jendela-jendela kemungkinan.

Lalu kemarin, undangan resmi itu benar-benar tersebar.Semua pejabat setara saya mendadak sibuk. Mereka menyiapkan diri menuju lokasi ujian, meraba-raba pertanyaan apa saja yang mungkin muncul, dan sebagian bahkan sudah menyusun strategi, seolah ini ujian terakhir penentu nasib karier mereka.

Suasana berubah jadi seperti para pelajar menjelang ujian nasional, penuh dinamika, penuh harapan, dan tentu saja penuh kecemasan.

Awalnya saya ikut terseret semangat itu. Tapi entah mengapa, sebuah keraguan kecil muncul begitu saja: jangan-jangan saya sudah tidak akan diikutkan. Meski begitu, saya tetap berharap. Saya tetap ingin percaya bahwa saya masih punya ruang sedikit saja di antara kursi undangan itu.

Maka saya pun memelototi daftar nama undangan itu dengan saksama. Baris demi baris. Gelar demi gelar. Tapi setelah seluruh daftar itu saya telusuri, kenyataannya tetap sama: nama saya tidak ada.

Ada bunyi kecil semacam “krek” di dalam dada saya. Bukan patah, hanya seperti sendi tua yang mengaku letih.

Saya mencoba meredam kekecewaan itu. Saya terima kenyataan yang sebenarnya sudah saya tahu jauh di dalam diri saya. Usia saya memang sudah melewati syarat. Saya bukan tidak layak tapi waktu memang sedang menutup pintu itu dengan cara yang halus namun tegas.

Dan di titik itu, tanpa saya sadari, saya mulai menengok kembali perjalanan panjang saya sebagai ASN. Selama aktif bertugas, saya sebenarnya pernah memiliki sebuah keinginan sederhana: ditempatkan di bidang yang menjadi minat dan pengalaman awal saya—bidang keairan.

Di dunia itulah saya dulu merasa paling hidup, paling menguasai medan, dan paling paham seluk-beluknya hingga ke akar teknis.

Seandainya saya diberi kesempatan berkarier di sana sejak awal, mungkin saya akan melenggang lebih percaya diri, mungkin pula kontribusi saya akan lebih terasa jelas arahnya.

Namun saya selalu percaya bahwa pimpinan pasti sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Ada alasan yang mungkin tak pernah saya ketahui, ada pertimbangan kelembagaan, ada puzzle besar birokrasi yang kepingannya tidak terlihat oleh orang-orang seperti saya. Dan saya belajar menerimanya.

Saya tak pernah membantah, tak pernah mengeluh. Karena saya selalu yakin satu hal:
Di suasana gelap apa pun saya ditempatkan, saya akan tetap bersinar. Tidak karena jabatan, bukan pula karena fasilitas, tetapi karena saya percaya bekerja dengan hati akan membuat siapa pun terlihat, sekalipun berada di sudut paling redup.

Dan itulah yang membuat perjalanan saya sebagai ASN terasa tidak sia-sia.

Namun kini, hari-hari menjelang pensiun mulai membuka babak lain. Saya mulai mempersiapkan diri untuk melepas satu per satu kemudahan dari jabatan yang selama ini saya emban.

Zona nyaman yang selama bertahun-tahun saya tempati itu, sebentar lagi akan menjadi bagian dari cerita masa lalu. Saya bahkan sudah memikirkan bagaimana mencari tambahan penghasilan ketika semua tunjangan berhenti mengalir.

Rasanya seperti memutar kembali film lama: ketika saya hidup dari proyek ke proyek sebagai tenaga ahli kontrak, merasakan “pensiun kecil” berkali-kali sebelum akhirnya menjadi PNS.

Tapi kali ini rasanya berbeda. Perbedaan itu bernama istri saya.
Dua tahun terakhir ini, justru dia yang paling menikmati perannya sebagai istri ASN. Kegiatan Dharma Wanita membuatnya hidup lebih cerah.

Dia bersosialisasi, berorganisasi, terlibat dalam banyak kegiatan. Ia tampak bahagia, jauh lebih percaya diri dibandingkan dulu. Dan saya, sebagai suaminya, tentu ikut merasa bangga.
Itulah yang membuat saya khawatir.

Suatu hari, dengan penuh hati-hati, saya menyampaikan bahwa ia harus mulai mengurangi kegiatan Dharma Wanita, perlahan-lahan menarik diri sebelum waktu memaksanya mundur begitu saja.

Ia mengerti. Walaupun saya tahu, ada sedih yang ia sembunyikan di balik senyumnya. Dan di situ saya belajar lagi tentang hidup bahwa
segala yang kita mulai memang akan punya akhirnya. Dan sebelum akhir itu datang, kita memang harus menyiapkan diri.

Hari-hari saya kini rasanya seperti senja. Tidak gelap, tidak juga terang. Hanya cahaya lembut yang perlahan turun, memberi saya kesempatan untuk menata hati. Saya mulai merapikan meja kerja lebih sering. Saya memperhatikan kalender dengan cara yang berbeda. Saya menghitung jarak menuju hari terakhir saya menginjakkan kaki di kantor ini sebagai seorang ASN.

Aneh. Kadang saya takut, tetapi di waktu yang sama saya juga merasa tenang. Ada kelegaan baru yang perlahan tumbuh, yakni kesadaran bahwa ujian terbesar dalam karier bukanlah memulai sesuatu, tetapi mengakhiri sesuatu dengan elegan.

Dan sekarang, saya sedang belajar mengakhiri.
Pelan-pelan. Tanpa drama. Tanpa penyesalan.
Karena mungkin, setelah semua ini selesai, saya akan menemukan diri saya yang lebih jernih dari sebelumnya.

Untuk saat ini, saya hanya ingin menata hati setenang senja yang mengantar matahari pulang. Karena ya…
sebelum akhir itu datang, kita memang harus bersiap diri.

My Kopi ‘0’, 17 November 2025_

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : MUSTAMIN RAGA (PENULIS BUKU SENYAP YANG BICARA)