Dia bersosialisasi, berorganisasi, terlibat dalam banyak kegiatan. Ia tampak bahagia, jauh lebih percaya diri dibandingkan dulu. Dan saya, sebagai suaminya, tentu ikut merasa bangga.
Itulah yang membuat saya khawatir.
Suatu hari, dengan penuh hati-hati, saya menyampaikan bahwa ia harus mulai mengurangi kegiatan Dharma Wanita, perlahan-lahan menarik diri sebelum waktu memaksanya mundur begitu saja.
Baca Juga : Rutan Pangkep Berikan Penghormatan pada Sejumlah ASN Gugur di Jayawijaya
Ia mengerti. Walaupun saya tahu, ada sedih yang ia sembunyikan di balik senyumnya. Dan di situ saya belajar lagi tentang hidup bahwa
segala yang kita mulai memang akan punya akhirnya. Dan sebelum akhir itu datang, kita memang harus menyiapkan diri.
Hari-hari saya kini rasanya seperti senja. Tidak gelap, tidak juga terang. Hanya cahaya lembut yang perlahan turun, memberi saya kesempatan untuk menata hati. Saya mulai merapikan meja kerja lebih sering. Saya memperhatikan kalender dengan cara yang berbeda. Saya menghitung jarak menuju hari terakhir saya menginjakkan kaki di kantor ini sebagai seorang ASN.
Aneh. Kadang saya takut, tetapi di waktu yang sama saya juga merasa tenang. Ada kelegaan baru yang perlahan tumbuh, yakni kesadaran bahwa ujian terbesar dalam karier bukanlah memulai sesuatu, tetapi mengakhiri sesuatu dengan elegan.
Baca Juga : Bola Panas Gowa: Dari Gedung DPRD Ke Palu Mahkamah Agung
Dan sekarang, saya sedang belajar mengakhiri.
Pelan-pelan. Tanpa drama. Tanpa penyesalan.
Karena mungkin, setelah semua ini selesai, saya akan menemukan diri saya yang lebih jernih dari sebelumnya.
Untuk saat ini, saya hanya ingin menata hati setenang senja yang mengantar matahari pulang. Karena ya…
sebelum akhir itu datang, kita memang harus bersiap diri.
My Kopi ‘0’, 17 November 2025_
Baca Juga : Antrean Solar Mengular dan Menjadi “Predator” Jalur Logistik
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
