Narasi yang Timpang sebagai Provokasi Halus

Narasi yang Timpang sebagai Provokasi Halus

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Beberapa waktu lalu, pesta adat bakar babi di Merauke ramai memenuhi linimasa media sosial. Potongan video, komentar, hingga perdebatan mengenai budaya dan identitas beredar luas dalam waktu singkat.

Pada saat yang hampir bersamaan, berbagai upaya diversifikasi pertanian di Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan daerah lainnya terus berlangsung melalui penanaman sorgum, jagung, porang, serta pengembangan sistem irigasi.

Namun, kerja-kerja yang berkaitan langsung dengan masa depan ketahanan pangan itu nyaris tidak memperoleh perhatian yang setara.
Persoalannya bukan pada pemberitaan pesta adat itu sendiri.

Tradisi merupakan bagian sah dari identitas budaya yang layak dihormati dan diketahui publik. Yang menjadi masalah adalah ketimpangan dalam cara sebuah peristiwa dinarasikan dan ditempatkan di ruang publik. Ketika satu sisi realitas mendapat sorotan berlebihan sementara sisi lain hampir tak terlihat, yang terbentuk bukan pemahaman yang utuh, melainkan persepsi yang timpang.

Perhatian publik lebih mudah tertarik pada hal-hal yang memiliki daya kejut, simbol, dan muatan emosional. Peristiwa budaya yang dapat memicu perdebatan lebih cepat menjadi viral dibandingkan proses pembangunan yang panjang dan teknis.

Algoritma cenderung mengutamakan keterlibatan, sehingga kontroversi lebih mudah menyebar daripada cerita tentang petani yang berjuang menghadapi perubahan iklim atau masyarakat yang berupaya meningkatkan produktivitas pertanian.

Akibatnya, ruang publik lebih sering dipenuhi sensasi ketimbang substansi.
Ketimpangan narasi seperti ini berpotensi melahirkan kesalahpahaman. Masyarakat yang tidak mengenal Papua secara langsung dapat membangun persepsi bahwa hal-hal yang menonjol dari daerah tersebut hanyalah aspek-aspek yang dianggap berbeda atau kontroversial.

Padahal yang berubah bukan budayanya, melainkan cara budaya itu dipotret dan disebarkan tanpa konteks yang memadai. Ketika suatu daerah lebih sering hadir melalui isu sensitif daripada melalui capaian dan kontribusinya, rasa ketidakadilan dan jarak psikologis antarkelompok masyarakat pun mudah tumbuh.

Karena itu, program pembangunan tidak cukup disampaikan melalui angka, laporan, dan seremoni. Ia membutuhkan cerita yang hidup dan dekat dengan pengalaman masyarakat. Kisah petani yang beralih ke varietas tahan kekeringan, ibu-ibu yang mengembangkan komoditas alternatif untuk menambah pendapatan keluarga, atau anak muda yang kembali ke kampung halaman karena melihat peluang di sektor pertanian adalah narasi yang mampu memperlihatkan wajah manusia di balik kebijakan.

Cerita semacam itu membuat publik memahami bahwa pembangunan bukan sekadar statistik, melainkan proses yang mengubah kehidupan.
Ruang publik yang sehat bukan hanya memberi tempat bagi cerita yang paling ramai, tetapi juga bagi cerita yang paling penting.

Narasi yang timpang dapat menjadi bentuk provokasi yang halus, bukan karena mengandung kebohongan, melainkan karena hanya menampilkan sebagian kebenaran dan menyingkirkan bagian lainnya.

Jika kita ingin menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman, maka yang harus dihadirkan bukan sekadar informasi yang viral, melainkan gambaran yang utuh, adil, dan berimbang. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)