Logo Harian.news

Narasi yang Timpang sebagai Provokasi Halus

Editor : Andi Awal Tjoheng Jumat, 12 Juni 2026 09:05
Narasi yang Timpang sebagai Provokasi Halus ||(dok_qwenAI@harian.news)
Narasi yang Timpang sebagai Provokasi Halus ||([email protected])

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Beberapa waktu lalu, pesta adat bakar babi di Merauke ramai memenuhi linimasa media sosial. Potongan video, komentar, hingga perdebatan mengenai budaya dan identitas beredar luas dalam waktu singkat.

Pada saat yang hampir bersamaan, berbagai upaya diversifikasi pertanian di Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan daerah lainnya terus berlangsung melalui penanaman sorgum, jagung, porang, serta pengembangan sistem irigasi.

Baca Juga : Lipstik Effect: Ketika Rakyat Disuruh Tenang Soal Dolar, Dapur Rumah Pilih Bertahan Cara Sendiri

Namun, kerja-kerja yang berkaitan langsung dengan masa depan ketahanan pangan itu nyaris tidak memperoleh perhatian yang setara.
Persoalannya bukan pada pemberitaan pesta adat itu sendiri.

Tradisi merupakan bagian sah dari identitas budaya yang layak dihormati dan diketahui publik. Yang menjadi masalah adalah ketimpangan dalam cara sebuah peristiwa dinarasikan dan ditempatkan di ruang publik. Ketika satu sisi realitas mendapat sorotan berlebihan sementara sisi lain hampir tak terlihat, yang terbentuk bukan pemahaman yang utuh, melainkan persepsi yang timpang.

Perhatian publik lebih mudah tertarik pada hal-hal yang memiliki daya kejut, simbol, dan muatan emosional. Peristiwa budaya yang dapat memicu perdebatan lebih cepat menjadi viral dibandingkan proses pembangunan yang panjang dan teknis.

Baca Juga : Prabowo Komitmen Hentikan Kebocoran Kekayaan Negara, Rakyat Harus Sejahtera

Algoritma cenderung mengutamakan keterlibatan, sehingga kontroversi lebih mudah menyebar daripada cerita tentang petani yang berjuang menghadapi perubahan iklim atau masyarakat yang berupaya meningkatkan produktivitas pertanian.

Akibatnya, ruang publik lebih sering dipenuhi sensasi ketimbang substansi.
Ketimpangan narasi seperti ini berpotensi melahirkan kesalahpahaman. Masyarakat yang tidak mengenal Papua secara langsung dapat membangun persepsi bahwa hal-hal yang menonjol dari daerah tersebut hanyalah aspek-aspek yang dianggap berbeda atau kontroversial.

Padahal yang berubah bukan budayanya, melainkan cara budaya itu dipotret dan disebarkan tanpa konteks yang memadai. Ketika suatu daerah lebih sering hadir melalui isu sensitif daripada melalui capaian dan kontribusinya, rasa ketidakadilan dan jarak psikologis antarkelompok masyarakat pun mudah tumbuh.

Baca Juga : Demokrasi atau Ego?

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)

Follow Social Media Kami

KomentarAnda