Karena itu, program pembangunan tidak cukup disampaikan melalui angka, laporan, dan seremoni. Ia membutuhkan cerita yang hidup dan dekat dengan pengalaman masyarakat. Kisah petani yang beralih ke varietas tahan kekeringan, ibu-ibu yang mengembangkan komoditas alternatif untuk menambah pendapatan keluarga, atau anak muda yang kembali ke kampung halaman karena melihat peluang di sektor pertanian adalah narasi yang mampu memperlihatkan wajah manusia di balik kebijakan.
Cerita semacam itu membuat publik memahami bahwa pembangunan bukan sekadar statistik, melainkan proses yang mengubah kehidupan.
Ruang publik yang sehat bukan hanya memberi tempat bagi cerita yang paling ramai, tetapi juga bagi cerita yang paling penting.
Baca Juga : Lipstik Effect: Ketika Rakyat Disuruh Tenang Soal Dolar, Dapur Rumah Pilih Bertahan Cara Sendiri
Narasi yang timpang dapat menjadi bentuk provokasi yang halus, bukan karena mengandung kebohongan, melainkan karena hanya menampilkan sebagian kebenaran dan menyingkirkan bagian lainnya.
Jika kita ingin menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman, maka yang harus dihadirkan bukan sekadar informasi yang viral, melainkan gambaran yang utuh, adil, dan berimbang. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
